Hikmah Qurban
Oleh : Muhith, M.Ag
Kata kurban atau korban, berasal dari bahasa
Arab qurban, diambil dari kata : qaruba (fi'il madhi)
yaqrabu (fi'il mudhari') qurban wa qurbaanan
(mashdar). artinya, mendekati atau
menghampiri,
menurut istilah, qurban adalah
segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah baik berupa
hewan sembelihan maupun yang lainnya. Hewan kurban disebut juga dengan istilah udh-hiyah atau
adh-dhahiyah , dengan bentuk
jamaknya al adhaahi. Kata ini diambil dari kata dhuha,
yaitu waktu matahari mulai tegak yang disyariatkan untuk melakukan
penyembelihan kurban, yakni kira-kira pukul 07.00 – 10.00 (Ash Shan'ani, Subulus
Salam IV/89),
jadi udh-hiyah adalah hewan
kurban (unta, sapi, dan kambing) yang disembelih pada hari raya Qurban dan
hari-hari tasyriq sebagai taqarrub (pendekatan diri) kepada
Allah (Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah XIII/155; Al Jabari, 1994).
Memasuki Bulan
Dzulhijjah tahun, seluruh
umat Islam di dunia berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang
terakhir, ibadah haji. Bisa disebut sebagai rukun yang paling puncak. Saat itu,
umat muslim berkumpul di kota Makkah Arab Saudi untuk melaksanakan
proses-proses ritual ibadah haji. Diawali dengan wukuf di Arafah hingga thawaf
wada’ atau thawaf perpisahan. Ritual haji menegaskan citra Islam
sebagai agama yang egaliter, artinya menempatkan prinsip persamaan sebagai
sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Dalam pelaksanaan ibadah itu, umat islam
berkumpul dengan menanggalkan segala macam status yang disandangnya. Mereka
tidak memandang status sosial, baik kaya atau miskin, pejabat atau rakyat,
kulit hitam atau kulit putih, semuanya melakukan karena Allah semata.
Pada bulan ini, bulan kurban kita diingatkan pada
sebuah kisah tentang keimanan, kesabaran dan ketaatan absolut seorang nabi Ibrahim
yang demi perintah Tuhannya yang rela mengorbankan anaknya Ismail. Di mana saat itu Nabi Ibrahim
memperoleh mimpi secara berulang-ulang untuk menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim
pun pergi menemui putranya dan menyampaikan apa yang diperintahkan oleh
Allah melalui mimpinya.
Semula Nabi Ibrahim khawatir atas jawaban anaknya,
tapi Nabi Ismail menjawab: “Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah
kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Betapa terharunya beliau mendengar jawaban dari anaknya yang saleh sehingga
makin menambah rasa sayangnya sekaligus menambah kesedihannya karena teringat
bahwa beliau akan kehilangan anak yang dikasihinya.
Akhirnya keduanya membulatkan tekad dengan penuh
keimanan dan ketaatan untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Parang yang
sangat tajam disiapkan lalu mereka berangkat menuju suatu tempat untuk
melaksanakan perintah tersebut. Kunci dari kedua anak tersebut
adalah bagaimana cara melaksanakan perintah Allah dengan ikhlas, karena ikhlas
merupakan salah satu metode yang ampuh untuk mengalahkan semua ujian dan cobaan
dari setan dan iblis. Sebagaimana yang terdapat
firman Allah yang maksudnya : semua hamba Allah boleh dan bias di ganggu
oleh setan dan Iblis kecuali hamba-hambya yang iklhas.
Kondisi seperti ini menuntut adanya penterjemahan ulang
(reinterpretasi) makna qurban yang lebih kondusif dan konstekstual dengan
perkembangan zaman. Sebab, hanya dengan cara ini refleksi komitmen sosial yang
hendak dibangun melalui qurban akan dapat memenuhi makna luhur ibadah qurban,
yakni terdistribusikannya nilai-nilai kemanusiaan secara universal.
Oleh karena itu
marilah kita renungkan kembali makna Idul Adha yang juga disebut Idul Qurban, pesan yang sangat mendasar adalah bahwa agar
manusia tidak sesat dalam perjalanan hidup menuju ridha Tuhan, maka harus
selalu menjalin kedekatan dengan-Nya dan merasakan kebersamaan dengan-Nya
setiap saat. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn. Kita semua milik-Nya,
dari-Nya kita berasal, dan kepada-Nya kita kembali (Qs. al Baqarah, 156).
Pada dasarnya manusia mudah sekali terpedaya oleh kenikmatan
sesaat, maka Allah memberi metode dan bimbingan untuk selalu melihat kompas
kehidupan, berupa shalat. Karena itulah seruan shalat pun diawali dengan Allâhu
Akbar, begitu pula yang diserukan pada Idul Fitri dan Idul Adha. Bahkan
dalam adegan shalat pun kata yang paling banyak diucapkan adalah Allâhu
Akbar. Ini mengandung pelajaran bahwa kita harus selalu sadar bahwa
prestasi apapun yang kita raih, harta yang kita miliki, jabatan yang kita
pangku, semuanya kecil di hadapan Allah. Bahkan semua itu baru bermakna bila
berfungsi meningkatkan kedekatan kita kepada-Nya. Kesadaran ini diharapkan
dapat mengurangi keangkuhan diri, dan menjadi penghancur ’berhala’ hawa nafsu.
Hikmah apa yang bisa kita petik dari Ibadah
Qurban adalah sebagai berikut : Pertama keimanan, dalam kisah tergambar dengan jelas
sikap Nabi Ibrahim dan Ismail dalam memahami perintah dari Tuhannya. Keimanan
datang dari sebuah keyakinan di mana dalam hal ini Nabi Ibrahim meyakini bahwa
perintah yang datang dari Tuhannya adalah sebuah kebenaran yang mutlak harus
dipatuhi olehnya sebagai hambaNya. Namun demikian bukan berarti bahwa Nabi
Ibrahim tidak menggunakan akal dan logikanya dalam memahami perintah Allah.
Kedua kesabaran, seberapa besar sebenarnya kesabaran
yang dimiliki oleh seorang manusia? Tidak ada ukuran yang pasti, sebagian
berpendapat kalau sabar tidak ada batasnya namun banyak juga yang bilang kalau
sabar juga ada batasnya lantas kalau ada batasnya bukannya berarti tidak sabar?
Susah untuk menjawabnya memang dan gak usah berpolemik panjang karena tidak
akan ada habisnya. Tetapi bias diihatlah ketika Nabi Ibrahim akhirnya meyakini datangnya perintah Allah
untuk menyembelih anaknya, bisakah kita bayangkan apa yang berkecamuk di dalam
hatinya, bisakah kita bayangkan bagaimana perasaannya? Saya pribadi tidak bisa
membayangkannya karena bagi seorang hamba biasa itu terlalu berat.
Ketiga keikhlasan. Sulit memang untuk mengukur kadar
keikhlasan kita ketika melakukan sesuatu. Karena sebagai manusia apa yang kita
lakukan seringkali berhubungan dengan kepentingan diri kita sendiri dan memang
tidak ada sesuatu hal yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur keikhlasan amal
kita. Namun tidak ada salahnya kalau kita mencoba bercermin dari kisah Nabi
Ibrahim dan Ismail untuk sekedar mengambil pelajaran bahwa ketika Nabi Ibrahim
mendapat perintah untuk menyembelih anaknya dan setelah melalui pergolakan
batin yang luar biasa. Dan akhirnya beliau memantapkan hati untuk melaksanakan
perintah tersebut dengan ikhlas yang dalam hal ini beliau menyadari bahwa Allah
yang telah memberinya anugerah keturunan yang sangat didambakannya dan Allah
pula yang akan mengambilnya kembali.
Keempat solidaritas sosial. Di hari Idul Adha dan pada tiga
hari berikutnya disunnahkan bagi muslim yang mampu untuk berkurban dengan
menyembelih hewan ternak berupa kambing (domba) atau sapi atau unta. Kemudian
daging hasil sembelihan tersebut dibagikan kepada orang lain yang tentunya
lebih diutamakan untuk masyarakat sekitar dan kalangan yang kurang mampu. Ini
adalah bukti bahwa agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebersamaan,
kepedulian terhadap sama dan solidaritas sosial. Wallahu a’lam.



0 Response to "Hikmah Qurban"
Posting Komentar