Ghaflah atau Zikrah
Oleh : Muhith, M.Ag
Ketua Pergunu Batam, Dosen STIQ Kepri
Ghaflah berasal dari kata ghafala,yaghfuu, ghaflatan
maknanya ghafala asy-sya’a wa ahmalahu
yakni melalaikan
sesuatu dan melupakannya karena tidak mengingatnya. Dalam kata yang lain Agfhlasy
syai’a bermakna membiarkannya menyia-nyiakan. Dan kata tagahafala
bermakna sengaja melupakan atau pura-pura lupa. Kata istaghfala bermakna
menilainya lalai dan kelalainya terlihat. Mughaffal adalah orang yang tidak
mempunyai kecerdasan, sehingga ghaflan
adalah kata yang dibawahnya termasuk semua hal yang tidak mencapai tingkat
kesempurnaan karena sibuk atau menyibukkan diri dengan sesuatu yang lebih
rendah dari itu.
Menurut KH Wahfudin Sakam ghaflah berarti lalai, tidak peduli,
masa bodoh, terlena, cuek dan ignorant. Didalam al-Qur’an ada beberapa ayat
yang berkaitan dengan ghflah antaralain QS. al-Kahfi/18:28, QS. Al’Rum/ 30:7,
QS. Yunus/10: 7-8 dan QS al-A’raf/ 7: 179. Penulis hanya mengambil salah satu
dari ayat tersebut yakni QS al-A’raf/ 7: 179. yang artinya : Dan
Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan
manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu
sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah
orang-orang yang lalai.
Dalam ayat ini pertama : mereka memiliki Qalbu (Aqal) tapi malas berfikir, pada hal
menurut Dr. Burhanuddin dalam bukunya Paradigma Psikologi Islam, menyebutkan sedikitnya ada tiga fungsi qalbu yaitu : Fungsi kognisi yang menimbulkan daya cipta; seperti berfikir
(‘aql) memahami
(fiqih), mengetaui (ilmu),
memperhatikan (dabr), mengingat (dzikir),
dan melupakan (ghulf
). Fungsi
yang kedua yaitu yang berkaitan dengan
emosi yang menimbulkan daya rasa; seperti tenang (thuma’ninah), jinak atau sayang (ulfah)),
santun dan penuh
kasih sayang (ra’fah
wa rahmah), tunduk dan getar (wajilat ), mengikat (ghil ),
berpaling (zaigh
), panas (ghaliz ), sombong (hammiy),
dan kesal (isyma’azza
). Fungsi yang ketiga yaitu konasi yang
menilbulkan daya karsa seperti berusaha (kashb) sehingga daya qalbu mampu
mencapai tingkat supra kesadaran, qalbu mampu mengantarkan manusia pada tingkat intelektual (insuicit), moralitas, spiritualitas, keagamaan dan ketuhanan, jika manusia tidak bisa
memanfaatkan potensi aqal yang diberikan Allah (zikrah) maka ia jatuh kepada
gaflah.
Kedua mereka memiliki mata tapi tidak cermat
mengamati, dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris ada perbedaan istilah antara
melihat, memperhatikan dan mengamati, kalau melihat yang hanya sekedar melihat
tanpa mengamati (ra’a) atau ( to see), namun kalau (nadzara)
atau (to look) itu artinya
menatap atau melihat yang penuh dengan perhatian, sedangkan (abshara)
atau (to observe) artinya juga melihat namun penglihatannya mencermati, memperhatikan dan memikirkan,
jadi dalam ayat ini menggunakan kata (yubshiru) artinya mempunyai mata
akan tetapi tidak bisa memanfaatkan untuk penglihatannya mencermati,
memperhatikan dan memikirkan, ini adalah tergolong orang-orang yang ghaflah.
Ketiga mereka memiliki telinga tapi tidak teliti dalam mendengar,
telingan merupakan salah satu pintu masuknya dosa yang mengakibatkan ghaflah,
datangnya rayuan atau bisikan suatu dosa itu melalui telinga, datang amarah
juga karena adanya suara yang membuat telinga rasanya panas dan memerah
sehingga munculnya amarah, dan yang popular dalam kehidupan bermasyarakat
adalah “bisik bisik tetangga”, karena adanya bisik bisik tetangga ini
kebanyakan manusia tidak bisa mengendalikan diri, mengendalikan emosi yang
mengakibatkan munculnya dosa atau ghaflah.
Dalam
ayat selanjutnya mereka seperti binatang ternak (kal an’am) atau (cattle) seperti burung, kambing,
ayam, bebek itil dan lain-lain. Binatang ternak adalah binatang yang paling
rendah kastanya. Ia akan kalah dengan binatang liar /buas (wuhus) atau
(wild/beast) bahkan binatang ternak menjadi santapan binatang liar/buas dalam
kehidupan sehari hari. Allah memberikan perumpamaan terhadap orang-orang yang
lalai seperti binatang ternak, binatang yang paling rendah, dan mereka itulah
orang-orang yang merugi yang akhirnya di akhirat berpotensi di masukkan ke
dalam Neraka.
Dikatakan
ghaflah antara lain karena
tidak mengetahui kondisi hatinya, apakha sakit atau sehat, tidak hati-hati
terhadap tipu daya setan, tidak mengetahui jalan keselamatan, menyia-nyiakan
umurnya yang dipergunakan untuk perbuatan yang tidak bermanfaat, tidak mempuanyai
cita-cita yang tinggi dalam urusan agama, atau senang perkara yang rendah dalam
urusan agama, sengaja tidak peduli terhadap kebenaran dan terus tenggelam dalam
kebatilan, dan membiarkan musuh untuk menuntunnya kepada arah yang tidak ia
ketahui, sehingga orang orang yang ghaflah itu jika
mereka bekerja tidak akan produktif, kurang bermakna dan bahkan cenderung
merusak karena dalam benaknya yang dicari hanya untuk kepentingan sendiri, masa
bodoh, dan kurang memperhatikan kepentingan orang lain. Jika dalam beribadah
juga tidak ikhlas, tidak bernilai dan bahkan cenderung riya sehingga tidak bisa
merasakan manfaat dari ibadah yang dikerjakan.
Sedangkan zikrah adalah orang yang
ingat, orang yang sedang tidur bisa dikategorikan orang yang ghaflah, akan tetapi
tidak semua orang yang tidur bisa dikatakan ghaflah, karena sebagian orang saat
tidur juga masih bisa zikrah (ingat) kepada Allah. Zikrah secara lughawi
berarti ingat Allah. Sebagaimana firman Allah yang artinya : Ingatlah kalian pada-Ku, kelak Aku akan ingat
pada kalian”. Zikrah atau ingat kepada Allah itu bisa melalui perantara
zikir lisan, zikir arkan, atau zikir al-qolb. Zikir lisan sangat terbatas,
karena kegiatan fisik itu sangat terbatas, orang orang yang zikir fisik, bisa
berzikir selalam 2 (dua) jam sudah tergolong lama, begitu juga zikir al-arkan
(anggota badan) yakni dengan denyut nadi, detak jantung atau pernafasan, jika
zikir arkan itu diarahkan untuk kesembuhan fisik terkadang menghasilkan
kekuatan spiritual yang luar biasa, zikir yang tidak terbatas itu zikir hati,
karena didalam hati itu sendiri terdapat bermacaam-macam jenis nama dan
tingkatan.
Sebagian ulama menyebutkan hati dari segi penciptaanya menurut at-Tirmidzi, seperti yang dikutip oleh Robert
Frages, dalam bukunya : Hati, Diri, dan Jiwa, terjemahan; Hasmiyah Raud,
Hati memiliki empat stasiun yaitu, dada, hati, hati lebih dalam dan
lubuk hati terdalam. keempat statiun saling tersusun bagaikan sekumpulan
lingkaran. Dada (shadr)
merupakan permulaan hati, berfungsi sebagai sumber dari cahaya Islam dan tempat ilmu
lahir, kedua hati (qalb) dan
hati lebih dalam, disebut qalb karena mudahnya bolak- balik.
Qalb
merupakan tempat cahaya iman dan tempat ilmu batin, ketiga (fu’ad) berada pada kedua lingkaran tengah, fu’ad berasal dari kata faedah yang berarti manfaat, karena fu’ad memperlihatkan manfaat dari cinta Allah. fu’ad berfungsi untuk mengetahui realitas. Fu’ad juga bisa disebut tempat ru’yah (melihat), keempat inti dari hati (lubb) terletak di pusat lingkaran. Lubb bermakna inti dan pemahaman
batiniyah yang merupakan dasar hakiki
agama. Lubb merupakan tempat cahaya tauhid (nur at-tauhid). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa
posisi lubb
berada di dalam fu’ad, fu’ad berada di dalam qalb dan
qalb
berada di dalam shadr. Keempat stasiun tersebut dapat diilustrasikan kata ‘Tanah
Haram’, yang memuat sekitar Makkah, Makkah itu sendiri, Masjidil Haram dan Ka’bah
posisi sadr
dapat diibaratkan seperti daerah
sekitar Makkah. Posisi qalb dapat
diibaratkan Makakh itu sendiri. Fu’ad dapat
diibaratkan Masjidil Haram, dan lubb dapat
diibaratkan Ka’bah. Keempat stasiun ini saling bersusun bagaikan sekumpulan lingkaran.
Tiap stasiun juga dikaitkan dengan
tingkat spiritual yang berbeda-beda, sesuai dengan tingkat pengetahuan dan
pemahaman yang berbeda pengamalan yang berbeda-beda.
Dari sekelumit pemaparan penulis tentang
hati, pada dasarnya
Allah membekali hati manusia yang
di dalamnya senantia bergantian, jika
tidak ghaflah (lalai) tentu zikrah (ingat Allah). Lalai atau ingat Allah selama
24 (dua puluh empat) jam itu akan terus bergantian selama jasad masih di
kandung badan. Adakah zikrah manusia bisa runtut dalam
menapaki jenjang jenjang dan tingkatan-tingkatan secara lengkap, misalnya
seseorang setelah selesai memenuhi jenjang hati shadr kemudian naik lagi
tingkatan zikirnya ke dalam hati qalb, setelah itu rajin lagi zikirnya
sehingga naik ke jenjang hati fu’ad, dan terakhir
melengkapi zikirnya naik ke dalam tingkatan tertinggi yaitu ke tingkat hati lubb.
Bagaimana metodenya, berapa waktu zikrah yang harus ditempuh agar sampai ke
maqam al a’la tersebut. “Semoga”.


0 Response to "Ghaflah atau Zikrah"
Posting Komentar