Membaca Alam Semesta
Untuk menjelaskan bukti
bahwa Allah itu ada adalah sebuah pertanyaan; Apa yang disebut dengan Ada?. Dalam
Kamus Bahasa Indoensia ada adalah sesuatu yang hadir dan yang nampak dan dapat dilihat.
Ini adalah ada menurut indra mata. Ada menurut indra rasa tentu berbeda dengan
indra mata, walaupun mata tidak melihat namun jika indra rasa dapat merasakan
seperti angin, cuaca dingin, cuaca panas dst maka itu juga dinamakan ada. Jadi
yang namanya ada tidak mesti yang dapat dilihat oleh indera mata. Lain halnya
dengan hukum akal, ada menurut hokum akal adalah sesuatu yang dapat digambarkan
dalam akal fikiran. Mislanya Superman, Spiderman disebut ada karena ada dalam
benak akal fikiran kemudian divisualisasikan. Terakhir tentu hukum ada menurut
hati. Dari segi pengobatan medis ketika akal yang lelah dan hati yang lelah
para dokter memberikan resep yang berbeda berarti secara singkat antara akal
dan hati itu memiliki kualitas dan kemampuan yang berbeda. Intinya tidak semua
yang dapat diterima di hati tidak bisa semua dilogikakan.
Dalam salah satu hadits yang artinya : Suatu saat orang awam
mendatangi Rasulullah dan bertanya dimanakah Tuhan berada, Rasulullah menjawab
pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa ; Tuhan itu berada di langit nan
jauh di atas. Sepeninggal orang awam tersebut para sahabat yang hadir protes
dengan bertannya: Mengapa Rasulullah mengatakan Tuhan berada dilangit nan jauh
di atas, pada hal bukankah Ia berada dimana saja, karena Ia tidak terikat
dengan ruang dan waktu serta tdajk
mengenal bentuk? Dijawab oleh Rasulullah bagi orang tersebut, Tuhan itu
berada di atas, dan itu sudah cukup baginya. Hadits tersebut mengambarkan
betapa sulitnya menjelaskan hakikat adanya Allah bagi manusia. Pada hal Allah
memiliki sifat wujud.
Pertanyaan selanjutnya adalah apa buktinya kalau Allah itu ada?. Allah
menciptakan manusia adalah sebagai makhluq yang sempurna, sebaik-baik bentuk,
dan dibekali akal agar bisa membedakan mana yang benar dan mana salah. Secara
fitrahnya akal manusia cenderung memilih kepada yang benar daripada yang salah.
Sealin itu Allah memberinya nafsu yang senantiasa condong kepada salah dan
ingkar terhadap Allah. Dengan adanya akal manusia banyak bertanya tentang alam,
tentang kehidupan, tentang system galaxy tentang sains dan terakhir muncul
pentanyaan tentang bukti adanya Allah. Jika memang benar Allah itu ada mana
buktinya: jawabnya adalah apabila engkau melihat kedudukanmu dilapangan ilmu
akan kamu dapati dirimu masih dipantai lautan ilmu yang dalam yang tidak
diketahui batasnya, dan tidak dapat diukur dalamnya. Karena tetap akan ada
tokoh-tokoh ilmuan yang mengakui ketidak mampuanya menyingkap rahasia-rahasia
di alam semesta dan benda-benda yang ada dihadapanmu, sedangkan dirimu belum
tahu hakekat benda, hakikat hidup, hakikat pikiran dan pengenalan, sejauh ini
pemikiran-pemikran yang muncul dari analisa hidup adalah reaksi bagian-bagian
benda. Dengan demikian maka kemampuan akalmu untuk mengetahui yang paling dan
melekat pada dirimu saja tidak sannggaup, bagaimana kemampuan akalmu untuk
mengetahui hakekat Tuhan. Tentu tidak sanggup, karena mengenal Allah itu
wilyahnya bukan di akal fikiran tetapi didalam alam hakikat hati.
Dalil al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah itu ada seperti yang
terdapat dalam QS. Ibrahim/ 14 :10 artinya: Berkata
rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta
langit dan bumi? Ibnu Katsir dalam tafsirnya maksudnya ayat ini adalah
apakah kalian ragu terhadap keberadaan Allah yang telah menciptakan langit dan
bumi. Analisanya tidak mungkin adanya alam (langit dan bumi) tidak ada
penciptanya, kalau ada penciptanya, tidak mungkin penciptanya tidak wujud
(ada). Dan dalam ayat yang lain QS. al-Thur/52 :35 artinya Apakah mereka diciptakan
tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?
Secara Kosmologi disebutkan sebab musabab atau hukum kausalitas.
Aristoteles berpendapat Dimana alam ini wujudnya mungkin, bukan wujudnya wajib,
sehingga dijadikaknya alam ini karena ada yang menjadikan. Al Kindi berpendapat
adanya alam ini karena ada sebabnya,
sebab dan musabab ini memiliki hubungan dan rentetan yang panjang yang akhirnya
berhenti pada sebab yang pertama, dan sebab yang pertama adalah Allah.
Al-Farabi menjelaskan alam ini mungkin wujudnya, karena itu berhajat kepada
yang wajib wujudnya untuk mengubah wujudnya kepada wujud yang hakiki. Hubungan
sebab akibat memiliki rentetan, sehingga mustahil menurut akal sebuah rentetan
itu tidak berakhir.
Secara Ontologis bukti adanya Allah adalah bukti yang disandarkan
pada logika alam nyata. Salah satu perintisnya adalah Plato dan diteruskan oleh
Thomas Aqusnus yang mengatakan semua gerakan adalah timbul dari gerakan
sebelumnya, dan begitu seterusnya sehingga menjadi suatu rangkaian yang tidak
terhingga, dah ini mustahil menurut akal, sehingga disimpulkan ada penggerak
yang pertama itulah Tuhan. ST Agustine berpendapat bahwa manusia mengetahui
dari pengalamannya bahwa di dalam alam ini ada kebenaran. Tetapi terkadang
manusia akal manusia merasa mengetahui apa yang benar itu dan kadang-kadang
merasa ragu bahwa apa yang dikathui adalah sebuah kebenaran. Artinya akal
manusia mengetahui diatas kebenaran pengetahuan manusia masih ada kebenaran
yang tetap dan tidak berubah. Kebenaran yang tetap dan tidak berubah itulah
yang menjadi sumber cahaya bagi akal manusia dalam usaha mencari benar. Dan
kebenaran yang tetap dan tidak berubah inilah yang disebut Tuhan (kebenaran
mutlak).
Ilmu Teleologi, Teleo berarti tujuan, Teleologis berarti serba
tujuan. Menurut Teleolog alam raya ini tersusun dari bagian-bagian yang erat
hubungannya antara satu dengan yang lainnya, dan bekerja sama untuk tujuan
tertentu, tetapi alam tersebut tidak dapat menentukan sendiri tujuannya
tersebut, karena itu ada Zat yang mengatur tujuan alam itu yaitu Allah.
Misalnya udara yang berada dipermukaan bumi itu terdiri atas 21% O2, 78% H dan
1% gas yang lain-lain. Komposisi udara seperti itu harus tetap tidak boleh
berubah, kalau berubah akan berakibat buruk bagi kehidupan manusia. Menurut
riset ilmuan di laboratorium hasilnya sebagai berikut : apabila 21% O2
diturunkan jumlahnya menjadi 20% 02
saja, maka semua manusia dan hewan akan mati lemas dalam waktu yang singkat.
Kalau 21% 02 di naikkan menjadi 22% 02 maka semua yang ada dimuka bumi mudah
terbakar. Padahal banyak manusia dan hewan yang bernafas setiap saat yang
mengambil dari udara O2 dan melemparkannya ke dalam udara CO2. Dan CO2 ini
adalah gas yang beracun, tetapi udara itu O2nya tetap terjaga tidak kurang dan
tidak berlebih. Karena CO2 yang dilemparkan oleh manusia dan hewan saat
bernafas ke dalam udara diambil oleh tumbuh-tumbuhan, kemudian dengan
pertolongan cahaya matahari dipecah-pecah lagi menjadi O2 kemudian dilemparkan
lagi ke udara, sedangkan C-nya dijadikan makanan. Peristiwa ini disebut
asimilasi, inilah sebabnya mengapan O2 prosentasinya tetap tidak berubah tidak
naik dan juga tidak turun.
Secara Moral yang dielopori dalil moral Immanual Kant. Ia
berpendapat bahwa dalam diri manusia terdapat perasaan yang kuat untuk
mengerjakan kebaikan dan menjauhkan keburukan, bahkan juga menegur dan menyiksa
manusia jika terperosok ke dalam kesalahan. Perasaan ini menurut Kant tidak
datang dari pengindraan dan pengalaman, sebab anggota-anggota indra hanya hanya
memindahkan gambaran-gambaran yang ditangkapnya kepada manusia, sedangkan yang
ditangkapnya itu tidak satupun yang disebut teguran atau siksaan terhadap suara
hati, dan tidak pula datang dari teori akal, karena pekerjaan akal hanya
terbatas pada pengenalan indrawi dan mengolahnya menjadi objek fikiran, jadi
darimana datangnya perasaan itu?. Jawabnya datangnya perasaan itu datangnya
dari Tuhan. Undang-undang moral mengharuskan manusia memiliki kebebasan dalam
memilih kebaikan dan keburukan, tetapi terdapat kenyataan yang mengerjakan
kebaikan jarang mendapatkan balasan kebvaikan dan yang mengerjakan kejahatan
tidak diganjar, karena itu harus ada kehidupan yang mesti mendapatkan keadilan,
kehidupan lain yang mengharuskan keabadian jiwa yang tidak ada alas an lain
untuk mengingkarinya. Selama keabadian jiwa sudah merupakan kemantapan keadilan
dalam menerima balasan, maka manusia harus mempercayai adannya zat yang maha
kuasa dan maha adil. Dan zat yang kuasa dan adil itu adalah Tuhan.
Secara Intuisi, Intuisi artinya matahati atau ilham, H. Bergson
menjelaskan akal manusia menerima gambaran alam semesta ini terbagi-bagi tanpa
mengetahui pertalian-pertaliannya, sedangkan suatu kenyataan tidak bisa dicapai
kecuali dengan suatu pandangan yang menyeluruh, dengan pandangan ini manusia
bisa menghidupkan kenyataan yang universal.
Bergson melihat alam semesta mulai dari yang terkecil sperti atom sampai
cakrawala yang terbesar dilangit adalah satu badan, berdenyut dengan satu
kehidupan yang Nampak dengan jelas adanya pertalian, ada hubungan kerja antara
yang satu dengan lainnya, inilah suatu keadaan yang menciptakan dalam diri
manusia (ilham) atau pengenalan langsung terhadap wujud Tuhan yang agung dan
Maha Bijaksana.
Dalam aliran psikologi C.G Jung menyebutkan di dalam jiwa manusia
ada fungsi ke- Tuhanan atau naturalism religious. Djoko Sumartedjo dalam
bukunya Naluri Agama menyebutkan sesungguhnya agama memang hidup dalam diri
manusia. Pada setiap orang problematika ke-Tuhanan pasti pernah muncul dalam
hidup seseorang. Munculnya problematika tersebut karena adanya kerinduan untuk
mengenal hakikat. Haikat yang diamksud adalah mengenal Tuhan.
Bukti dengan Pancaindra Ilmuan India Dr. Inayatullah al-Masriqi
pernah berdiskusi bertanya kepada James Jamnes ilmuan terkemuka pertanyaannya
adalah mengapa anda ke gereja sedangkan anda adalah ilmuan terkemuka? James
menjawab dengan mulai menceritkan tentang alam semesta, tentang tata surya yang
aturannya begitu teliti dan menakjubkan, tentang planet-planet di angkasa yang
aturannya mencengangkan, tentang galaxy yang sinarnya tidak pernah redup. James
berbicara terus dan berkali-kali air matanya menetes di celananya tanpa dia
sadari, kemudia tiba-tiba tangannya gemetar dan tampak ketakutan membayangkan
kebesaran Sang Pencipta lalu ia berhenti berbicara. Terus memulai berbicara
lagi dengan mengatakan “ Begininilah, kalau saya ingat Sang Pencipta seluruh
persendian saya gemetar merasa betapa agungnya Allah, setiap saya bersujud
selalu saya berucap “Maha Besar Engkau wahai Tuhanku”. Saat itu saya merasakan
kebahagiaan seluruh tubuh. ini menujukkan indra menerima adanya Allah.
Tereakhir bukti secara Fitrah, dalam dalil fitrah adalah
menunjukkan semua bayi yang lahir ke dunia ini dalam keadaan fitrah atau suci.
Jika melihat di belahan dunia berapa banyak orang yang tidak menikah sesuai
dengan syariat islam, orang menajlani kehidupan dengan bebas sebebas-bebasnya,
tetapi semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ini tentu ada campur
tangan zat yang agung yang menjadikan semua bayi itu fitrah. Zat yang campur
tangan dalam menjadi semua bayi itu fitrah adalah Allah.


0 Response to "Membaca Alam Semesta"
Posting Komentar