Syifa ' Dalam Perspektif al-Qur'an
Syifa’ secara lughawi (etimologi) berarti kemiripan, keserupaan,
kesamaran, dan ketidakjelasan.Sedangkan secara istilah, menurut al-Ghazali,
syubhat ialah sesuatu yang masalahnya tidak jelas bagi kita, karena hal
tersebut terdapat dua macam keyakinan yang saling berlawanan yang timbul dari dua factor yang
menyebabkan adanya dua keyakinan tersebut. [1]
Kata shifa’secara etimologi
berasal dari bahasa Arab yang berarti obat atau
penawar. Dalam kamus al-Munjid al-Lughah waal-A’lamyang telah
dikutip oleh Aswadi antara lain diartikan sebagai obat dan kesembuhan.
Sedangkan dalam kamus Al-Qur’an karya Husain bin Muhammad, shifa’ diartikan
dengan empat sisi, yaitu : senang sehat, penjelasan, dan pinggir, karna kata
yang terstruktur dari huruf-huruf syinfa’- alif mengandung empat makna,
yaitu : senang, -al farah.[2]
Dalam kamus Al-Bisri shifa’terangkai dalam kalimat Shifa’un
min al-Maradi yang berarti kesembuhan.[3] Sedangkan
dalam kamus Munawwir
shafa- Shifa’an berarti menyembuhkan, as-shifau jama’ dari kata
ashfiyatu yang berarti obat.[4] begitupun
dengan makna shifa’ yang diungkapkan dalam
kamus kontemporer Arab bahwa kata shifa’ sejalan dengan kata I’lajun
yang berarti kesembuhan, pengobatan.19seluruh pengertian tesebut di ringkas
dalam kamus Al-Kautsar, yang meguraikan makna shifa’ sebagai penghilang, kesembuhan, sembuh serta benda yang menyembuhkan,
yaitu obat.[5]
Ajaran Islam adalah suatu ajaran wahyu yang bersumber
dari Allah SWT Dzat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Oleh karena itu Al-Quran
sebagai sumber utama ajaran Islam memiliki kebenaran yang mutlak. Kebanyakan
dari diri seorang manusia hanya sebatas mengakui suatu kebenaran tersebut,
namun mereka tidak ingin atau pun belum memiliki suatu kebenaran yang untuk
mengaplikasikan dari Al-Quran itu ke dalam seluruh aspek ilmu pengetahuan dan
kehidupan.
Dalam Q.S.
al-Isrā’/17: 82, tentang al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
“Dan kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang
menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu
tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”
Ayat di atas membatasi bahwa Al-Quran hanya untuk
orang-orang Mukmin, orang yang beriman kepada Allah. Dengan adanya Al-Quran,
mentadaburinya maka penyakit-penyakit kejiwaan seperti keraguan dan kebimbangan
akan hilang dari hati orang-orang beriman.
Bahkan Nabi SAW menegaskan di dalam hadisnya: Artinya:
“Barangsiapa yang tidak mencari kesembuhan dengan al-Quran,
maka Allah tidak akan memberi kesembuhan”.[6]
Syifā’ itu sendiri, oleh az-Zarkasyi digolongkan sebagai nama lain dari
al-Qur’an yang diuraikan melalui penjelasan bahwa al-Qur’an dapat berfungsi
sebagai syifā’ bagi orang-orang beriman dari penyakit kekafiran, dan
bagi orang-orang yang mengetahui dan mengamalkannya dapat berfungsi sebagai syifā’
dari penyakit kebodohan.3 Lebih
lanjut,Ibnu Katsīr justru memasukkan syifā’ sebagai nama lain dari surah
al-Fātihah, karena ada keterangan yang diriwayatkan secara marfu’ oleh
ad-Darimi dari Abu said, “Fātihatul-kitāb merupakan obat dari segala racun”. [7]
Al-Quran
adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa penyakit penyakit
Syubh, yang mengotori aqidah dan keyakinan. Karena dalam al-Quran
terdapat nasehat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan
memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.[8]
Pendapat Imam as-Sa’di diperluas oleh penafsiran Al-Qur’an al- Karim yang ditulis oleh Tim
Departemen Agama RI shifa’ditafsirkan sebagai
penyembuh bagi penyakit yang bersarang dalam dada manusia, seperti
penyakit shirik,kufur dan munafik, termasuk pula semua penyakit jiwa
yang mengganggu ketentraman jiwa manusia, seperti putus harapan, lemah
pendirian, memperturutkan hawa nafsu, menyembunyikan rasa hasad
dan dengki terhadap semua manusia, perasaan dengki dan menyembunyikan
permusuhan, mencintai kebatilan dan kejahatan serta membenci
kebenaran dan keadilan. [9]
Dalam
Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka juga berpendapat bahwa “Rahmat” adalah
kebajikan dan keberkahan. Maka ayat di atas dapat dimaknai kebajikan dan
keberkahan yang disediakan Allah bagi mereka yang beriman serta menghayati dan
mengamalkan nilai-nilai yang diamanatkan dalam Al-Quran. Buya Hamka merupakan
tokoh tasawuf yang mempunyai naluri kebatinan sangat tinggi. Sebagaimana beliau pernah di tanya
tentang pengobatan melalui ayat-ayat al-Quran seperti surah yasin. Menurutnya
kebiasaan itu pernah dilakukan orang arab sebelum Islam masuk, tentu ini
bertentangan dengan ketentuan Allah SWT, sebab hakikat penyembuhan hanya
pada_Nya, surah yasin yang di bacakan sebagai perantara penyejuk dan pemberi
ketenangan pada jiwa seseorang.[10]
Dalam
sebuah Riwayat oleh Ibnu Sunni dari Abdurrahman bin Abi Laila dari seorang
laki-laki dari ayahnya, ia mengatkan bahwa pernah seorang laki-laki datang
menghadap Nabi saw., sambil mengatakan : “Sesungguhnya saudaraku sedang sedang
sakit”. Nabi mengatakan, sakit apa saudaramu itu? Ia menjawab, semacam penyakit
lupa ingatan (gila). Lalu Nabi saw. bersabda : “Bawalah ia kepadaku”. Kemudian
beliaupun mengobati atau menyembuhkan orang itu tersebut; dengan Ayat-ayat
al-Qur’an dan Ayat al-Syifa kepadanya berupa :[1]
a.
Surat al-Fatihah.
b.
Surat al-Baqarah, 2:2-5, 163-164, 225, 284-286.
c.
Surat ali-Imran, 3:2, 18.
d.
Surat al-A’râf, 7:54.
e.
Surat al-Mu’minun, 23:116.
f.
Surat al Jin, 72:3.
g.
Surat ash-Shâffât, 37:1-10.
h.
Surat al-Hasyr, 59:22-24.
i.
Surat al-Ikhlash, 112:1-4.
j.
Surat al-Falaq, 113:1-5.
k.
Surat an-Nâs, 114:1-6.
[2]Aswadi, Konsep Syifa dalam Al-Qur’an, Kajian Tafsir Mafatih} al
Ghaib Karya Fakhrudin al Razi(Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia,2012) , 277
[3]Adib Bisri, Kamus Arab-Indonesia Al-Bisri (Surabaya:
Pustaka Progresif, 1999), 321.
[4]Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, Kamus Arab-Indonesia (Surabaya:
Pustaka
Progressif, 1997), 731
[6]Ahmad
Mustofa al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Juz XI, (Semarang: CV Toha
Putra,1988), hlm.
236.
[7]Imam Badr ad-Din Muhammad bin `Abdullah az-Zarkasyi (745-794 H.), al-Burhan
fī
Ulūm
al-Qur’ān (Beirut: Dar al-Fikr, 1980), Jilid. I, h. 275 dan 280. Dalam hal
ini ia merunjuk pada QS al-Isrā’: 82.
[8] Sahirul Alim, Menguak Keterpaduan Sains; Teknologi
Dalam Islam, (Yogyakarta: Dinamika, 1996), hlm. 121.
[10]http://www.kompasiana.com/elyardi/buya-hamka-dukun-dan-surat-yaasin-untuk-orang-mati.
Diakses pada tanggal 10 Agustus 2017 pukul 07:00 Wib.


0 Response to "Syifa ' Dalam Perspektif al-Qur'an"
Posting Komentar