Hakikat Hijrah ; KH Yusuf Chudholi


Dalam Safari Dakwah KH Yusuf Chudholi (Gus Yusuf) di Masjid Agung dalam Kajian Zhuhur, ia menjelaskan mengenai proses perjalanan hijrah Rasulullah. Rasul bersabar ia menjawab sabar, selain menunggu mendapat perintah dari Allah untuk berhijrah ke Madinah. Rasulullah juga telah mempersiapkan hijrah hampir dua bulan dengan perencanaan yang matang,  diantaranya meminta Abu Bakar menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah bin Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan, meminta Ali bin Abi Talib untuk memakai mantelnya dan berbaring di tempat tidurnya, meninggalkan Mekkah secara diam-diam untuk hijrah ke Madinah. dan berpesan kepada Ali bin Abi Thalib agar ia tinggal di Makkah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Ujar Gus Yusuf mengawali tausiahnya.
Hampir semua sahabat berhijrah dengan sembunyi2. Satu-satunya sahabat yang berani hijrah dengan terang-terangan adalaha Umar bin Khattab, ia berangkat hijrah dengan menggantungkan pedang dilehernya sambil memegang busur panah ditangannya dilengkapi dengan anak panah yang banyak. Pertama-tama dia mendatangi masjid dan melakukan tawaf dengan tenangnya dan mengerjakan shalat dengan khusyu'. Setelah itu dia mendatangi kumpulan orang-orang kafir, lalu berkata, "Barangsiapa ingin ibunya menangisi kematian anaknya, isterinya menjadi janda , anak-anaknya menjadi yatim maka keluarlah dan hadapi aku untuk bertempur” Dia pun mendatangi perkumpulan yang lainnya sambil berkata seperti itu. Tetapi tidak ada satu orang kafir pun yang berani menghadapi tantangannya. Intinya hijrah tidak cukup dengan semangat saja, tetapi harus dengan ilmu, kesabaran dan keikhlasan. Tambah Gus Yusuf.
Hijrah dapat dimaknai banyak arti pertama min al-zhulumat ila al-nur ( dari kegelapan kehiduan menuju kepada cahaya keimanan ), kedua min al-bathil ila al-haq ( dari suka berbuat kebatilan menuju kepada suka kepada fitrah kebenaran ), ketiga min al-jahll ila al-ilm ( dari tidak berpengetahuan khususnya pengetahuan agama menuju kepada berilmu yang benar dalam mempelajari agama), keempat min al-kaslan ila al-jud ( dari bermalas-malasan beribadah, bermalas-malasan sedekah dan bermalas-malasan datang ke majleis taklim menuju kepada bersungguh-sunggguh dalam beribadah, mencari ilmu dan bersedekah), kelima min al-ma’ashi  ila al-tha’at ( dari berprilaku maksiat menuju kepada taat beribadah ), keenam min al-shalat al fadzzi ila al-al-shalati al jama’ah  ( dari sebelumnya suka shalat sendiri menuju kepada rajin shalat berjamaah), “Sudah hijrahkah diri kita, sudah hijrahkah keluarga kita?” jelas Gus Yusuf.
Dalam akhir tausiahnya Gus Yusuf memberikan dua ibrah, ibrah pertama datang dari dalam masjid, rajin jama’ah yang bernama Tsa’labah namun akhir hidupnya mati su’ul khatimah. Kedua Wahsyi bin Harb budak kulit hitam dari Ethiopia milik Hindun, yang membunuh paman Rasulullah, membelah dadanya, mengeluarkan jantungnya, memotong hidung dan telinga dan bibir dan mencungkil ke dua matanya lantas di bawakan kepada Hindun, sampai-sampai setelah masuk islam Rasulullah masih belum mau bertemu dengan Washi, karena jika bertemu Washi Rasulullah ingat jasad pamannya yang  rusak dan hancur oleh Washi, namun setelah masuk islam Tombak itu juga untuk membunuh Musailamah al Kazzab, Wahsyi benar-benar ingin menebus kesalahannya, mencintai Rasulullah dibuktikannya dengan menjelajah ke seluruh pelosok dunia untuk berdakwah mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk memeluk kepada Islam, hingga akhirnya beliau wafat di luar Jazirah Arab dan mati dalam khusnul khatimah. Intinya “Dari dalam masjid tetapi disertai dengan kesombongan akhirnya suul khatimah, jauhi sombong agar tergolong orang yang khsunul khatimah, pungkas Gus Yusuf.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hakikat Hijrah ; KH Yusuf Chudholi"

Posting Komentar