SOSOK MUBALLIGH MILLENIAL By AGUS IDWAR


Agus Idwal Jumhadi dalam pelatihan Muballigh Batam Tahun 2019, tanggal 13-14 Agustus 2019 di lantai 4 Kantor Walikota Batam dengan tema Tantangan Muballigh Batam di Era Teknologi dan Millenial. Hadir dalam pelatihan tersebut tiga narasumber pertama Agus Idwar Jumhudi, selaku Komisi Budaya dari MUI Pusat, salah satu personel Group Nasyid Snada, Duta Wakaf juga seorang produser Musik, kedua Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH,.MA Kepala Kantor Kementrian Agama Provinsi Kepulaaun Riau, dan Hanafi, S. Kom Dosen Sekolah Tinggi Teknik Ibnu Sina Batam.
Agus mengawali materinya dengan sabda Rasul yang artinya “Didiklah anakmu sesuai zamannya”, selanjutnya ia menceritakan kenangan manisnya dengan Ustad Jeferi al-Bukhori atau yang lebih di kenal dengan Ustad Uje, ia mengangap Ustad Uje adalah sosok ustad yang fenomenal, sosok ustad yang diterima semua kalanagan dan lapisan masyarakat. Ustad Uje menjadi salah satu pendakwah yang sanggup membangun revolusi mental, revolusi sosisal dan revolusi budaya. Jelas Agus
Revolusi mental maksudnya ialah dari gambaran kehidupan pribadinya yang berproses hijrah setelah tenggelam terhadap kenikmatan duniawi dan kembali pada titik balik kesadarannya. Perjuangan yang mustahil dilakukan oleh seorang yang saat itu begitu mudah memperoleh kenikmatan duniawi dan ditinggalkannya dengan tekad yang luar biasa, sehingga Ustad Uje banyak memberi Inspirasi kepada orang-orang yang bisa dikatakan super maksiat menjadi orang yang taat, karena pendekatan yang disampaikan memamng mampu membangun mental seseorang yang sudah jatuh, saeseorang yang maksiat sudah terpuruk diangkat dan disamakan. Revolusi budaya yang diamksud adalah dimana Ustad Uje sanggup membuat ciri yang fenomenal di dalam bermasyarakat. Dalam fashion ustad Uje memiliki ciri khas yang kuat sehingga sangat terkenal baju gamis Uje, Peci Uje dan Kaos lengan panjang ala Uje. Selain itu Ustad Uje juga tergolong Ustad yang mempu membangun Revolusi Sosial, sebagai seorang dai kondang, ia mampu dan merasa nyaman diundang perkumpulan banci se-Jakarta. Tentu menjadi fenomena baru ada ustad dimata masyarakat yang dalam tanda kurung dianggap masyarakat yang banyak dosa, karena berprofesi sebagai banci tetapi mereka merasa nyaman mendatangkan Ustad Uje, ternyata ustad Agus saat itu bertanya kepada Ustad Uje, mengenai sikapnya yang tidak terbatas kepada siapa saja yang mengundangnya Ustad Uje menjawab; “ Adakah orang yang merasa tidak punya dosa, kebanyakan orang itu terhalangi komunikasi dengan orang lain karena dengan baju kebesaranya atau dengan jubahnya, jika baju kebesaran atau jubahnya dilepas maka orang tersebut bisa komunikasi dan berdakwah kepada siapa saja. Ujar Agus mengenang jawaban Ustad Uje.
Sebelum menjelaskan sosoknya seperti apa muballigh millennial, Agus menjelaskan apa itu muballigh. Menurut Agus Mubaligh adalah seorang muslim yang mampu berbicara di depan umum dengan bahasa yang indah dan menyejukkan, berbeda dengan dai, Da’i adalah seorang muslim yang dia belum tentu bisa berbicara dengan baik  tetapi dia mampu ngajak orang supaya menjadi baik. Jadi perbedaan da’i dan muballigh ada jika muballigh harus mampu berbicara di depan umum dengan bahasa yang indah dan menyejukkan sementara dai tidak mesti mampu mampu berbicara di depan umum dengan bahasa yang indah dan menyejukkan tetapi persamaanya adala mengajak orang untuk menjadi baik. Ujar Agus

Menurut Agus ada delapan karakter masyarakat millennial yang perlu dipahami muballigh Batam, pertama Instan yakni masyarakatnya besifat spontan, dan langsung, ibarat makanan atau minuman jika dimasak tidak perlu memakan waktu yang lama, kedua konsumtif yakni masyarakat yang cenderung memiliki pola hidup individu atau masyarakat yang mempunyai keinginan untuk membeli atau menggunakan barang dan jasa yang kurang atau tidak terlalu dibutuhkan, masyarakat yang lebih gampang untuk membeli sesuatu yang tidak terlalau penting. ketiga Praktis yakni sikap masyarakatnya lebih memilih kepada tyang praktis, mudah dimanfaatkan, mudah digunakan  tidak ribet, keempat bosanan, masyarakat millennial itu mudah jenuh, menyukai sesuatu hanya sebentar sehingga yang terlibat didalamnya dituntut agar lebih kreatif, inovatif dan produktif, kelima Kritis, yakni masyakarat yang bersikap peka terhadap peristiwa yang terjadi di sekitar lingkungan, atau berfikir secara cerdas dengan sumber-sumber yang jelas dan logis, selanjutnya keenam Selfis yaitu sikap masyarakat yang wataknya condong suka melakukan swafoto atau foto narsisis, potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital atau telepon kamera, ketujuh Gadgeters, atau kegiatan yang dilakukan masyarakat selalu dikaitkkan dengan perangkat yang memiliki fungsi lebih spesifik, bersifat praktis dan dirancang dengan teknologi canggih seperti Laptop, MP3 Player, Netbook, E-Reader, Kamera, Xboox, Smartphone, Tablet dan masih banyak perangkat lain yang memiliki fungsi khusus dan berbeda-beda karakter masyarakat Milenial yang terakhir adalah Cuek, karena sibuk dengan dunia yang ditekuninya kurang memperhatikan kondisi sekitarnya. Jelas Agus
Menurut Agus bekal muballigh millennial adalah mental, yakni karakteristik seseorang yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan, pemikiran, perilaku, Ustad Agus menyebutnya “Berfikirnya adanya bukan ada apa nya”, bekal kedua yaitu Ilmu dimana muballigh mengetahu dengan siapa ia sedang berceramah, memiliki target dalam penyampaikan sebuah kajian, praktis dan mudah dipahami dalam menyampaikan materinya, atau dalam sebutan ustad Agus “Jangan merasa pandai tapi pandailah merasa”.Bekal ketiga yaitu metode berkaitan dengan kemampuan teknis mampu mencuri perhatian, kemampuan verbalnya, artikulasi dan intonasinya cocok sehingan menyenangkan, enak ditelinga, didukung dengan gesture tubuh yang menunjang, pakaian yang memunculkan aura, selain itu ditunjang dengan eksplorasi ide dan merangkai kalimat yang mudah dipahami dibumbuhi dengan seni sehingga jelas mana saat menjelaskan materi dan mana selingan humor dalam memdalamkan materi. Namun juga harus memilki kemampuan kreatifitas dalam mengemas ide nama kegiatan dan program agar bisa booming. Tambah Agus.

Modal lain untuk menjadi dai atau muballigh millennial adalah Potitioning yakni tindakan untuk merancang agenda dann kegiatan dakwah agar dapat tercipta kesan tertentu yang senantiasa diingat jamaah sehingga masyarakat menghargai apa yang dilakukan dalam kaitannya dengan kegiatannya. Potitioning biasanya melekat karena masyarkat sudah memakluminya seperti istilah da’i sejuta umat, dai nasional. Dai sejuta follower dan sebutan lainya. Selain Potitioning modal tidak kalah penting adalah Branding yakni merancang  kegiatan yang dibuat dengan tujuan untuk mengidentifikasikan  kegiatan, kemudian diiklankan di media sosial seperti Youtube, FB. Twitter, Instagram dan lainnya agar semakin mengenalnya misalnya ustad gaul, ustad zikir, ustad pantun, ustad sedekah, ustad shalawat, ustad millennial dan sebutan lainya. Tujuan Potitioning adalah untuk menempatkan atau memposisikan kegiatan di masyarakat sehingga suatu produk yang dibuat berbeda dengan yang ada sebelumnya sehingga produk baru tersebut dapat  bersaing di pasaran, sementara  tujuan branding adalah untuk membentuk citra sebuarh identitas sehingga mudah diingat oleh orang lain. Akhir dari Potitioning dan Branding tercapainya tujuan sebagai muballigh yang bisa diterimna oleh semua masyarakat, pungkas Agus.

 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " SOSOK MUBALLIGH MILLENIAL By AGUS IDWAR"

Posting Komentar