Nasaruudin Umar: Silaturrahim Universal
Dalam mengisi Kajian Ba’da Zhuhur di Masjid Agung Batam Sabtu 29 Juni 2019 Nasaruddin Umar menjelaskan
mengenai kelebihan manusia sebagai khalifah dimuka bumi, dimana manusia
memiliki akal dan nurani yang bisa silaturrahmi secara universal berupa
ukhuwwah makhluqiyah. Ukhuwwah makhluqiyah bisa berbentuk silaturahim dengan
binatang, silaturrahim dengan tumbuh-tumbuhan dan silaturrahim dengan
benda-benda padat. Rasulullah pernah mengingatkan bahwa ada pasir yang
bertasbih sebagaimana dalam hadits yang dikisahkan ‘’Dari
sahabat Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu hari ia dan para
sahaba lain berjalan bersama Rasulullah, di dalam
perjalanan, Rasulullah memungut batu
kerikil, kemudian ditaruh di tangan beliau. Ajaibnya, batu kerikil itu
bertasbih hingga para sahabat mendengar suara tasbihnya. Dari tangan Rasulullah, kerikil itu lantas diberikan ke tangan
Abu Bakar, Umar, dan Utsman dan para sahabat
kembali bisa mendengar tasbih kerikil itu. Jelas Nasaruddin.
Sealnjutnya Rasulullah
silaturrahim dan komunikasi dengan binatang antara lain dengan unta dan dengan
kijang yang akan dibunuh warga desa. Dalam hadits disebutkan Ada seorang laki-laki lewat di sisi
Nabi Muhammad SAW dengan membawa seekor kijang hasil tangkapannya, selanjutnya
dengan izin Allah kijang itu berbicara kepada Rasulullah selepas kijang itu
mengucapkan salam, lalu sang kijang melanjutkan percakapannya. “Wahai
Pesuruh Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menyusu, dan
sekarang aku sudah ditangkap sedangkan anak-anakku kelaparan,” kata kijang
itu meminta belas kasihan. Rasulullah yang mampu mengerti
bahasa kijang itu lantas berdialog dengan si kijang. “Apakah yang engkau
harapkan dariku?” tanya Rasulullah.“Tolong perintahkan orang ini
melepaskan aku supaya aku dapat menyusui anak-anakku dan sesudah itu aku akan
kembali kemari,” janji kijang itu dengan sangat memohon."Bagaimana
kalau engkau tidak kembali lagi ke sini?" tutur Rasululah. “Kalau aku
tidak kembali kemari, nanti Allah SWT akan melaknatku sebagaimana ia melaknat
orang yang tidak mengucapkan shalawat bagi engkau apabila disebut nama engkau
di sisinya,” janji
kijang itu. Lalu Nabi Muhammad SAW pun bersabda kepada orang itu untuk melepaskan
kijang itu buat sementara waktu. Tanpa banyak berpikir lagi si
pemburu memenuhi permintaan Rasulullah Saw. Setelah dilepas oleh si pemburu,
kijang itu lari kencang meloncat-loncat kegirangan di padang pasir sambil terus
berkata,”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Anda adalah utusan
Allah.” tambah Nasaruddin.
Selanjutnya
silaturrahim itu belaku universal, kain ihram yang pernah dipakai, kain sajadah
yang selama ini dibuat sujud, tanah yang diinjak seseorang akan tahu siapa
orang yang menginjaknya, sehingga ketika seseorang hendak pergi shalat ke
masjid dianjurkan pergi dan pulangnya melalui jalan yang berbeda, tiada lain
adalah bentuk silaturahim manusia kepada tanah, bahkan mimbar Rasulullah dari
pelapah kurma yang tua yang mau diganti dengan mimbar yang lebih baik, mimbar
tersebut bertasbih dengan isap tangis.Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika
hari Jum’at, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar.
Lalu batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di sana itu berteriak,
hampir-hampir batang kurma itu terbelah.” Setelah itu, mulailah
batang pohon itu mengerang seperti erangan anak kecil yang sedang diredakan
tangisannya sampai ia terdiam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu
bersabda, “Ia menangis karena dzikir yang dulu biasa ia dengar.” “Mengapa
laut menggulung jadi tsunami, mengapa angin kencang menggulung jadi bencana,
karena manusia engan bersilaturrahmi dengan mereka”. pungkas Nasaruddin


0 Response to "Nasaruudin Umar: Silaturrahim Universal"
Posting Komentar