Konsistensi Pers Menjaga Perbatasan
Wartawan
memiliki tugas yang berat dalam meliput sebuah berita karena terkadang fakta
yang dilapangan terkadang bertentangan dengan asumsi masyarakat yang
berkembang, lebih-lebih menyangkut informasi permasalahan perbatasan wilayah
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terkadang banyak kepentingan yang
berlawanan dalam mengungkat sebauh kasus. Mislanya memberitakan Lapangan
Terbang yang terbengkalai di Natuna, dahulu saat zaman kemerdekaan tidak ada
pembebasan lahan dari pemerintah. karena tanah tersebut milik masyarakat, maka
tanah tersebut maka tanah tersebut dimanfaat anak cucu dari pemilik tanah,
namun dari versi pemerintah karena sudah milik pemerintah maka TNI harus
mengambil alih tanah yang dimanfaatkan masyarakat. “Inilah kasus kecil yang
sering dialami wartawan saat meliput di daerah perbatasan” ungkap Evi
Samsir Kepala Perwakilan LKBN Antara mengawali materinya didepan peseerta
Diskusi Publik di Hotel PIH Batam Center, dengan tema 15 Agustus 2017. Hadir dalam diskusi tersebut
Rumbadi Dalle, SH, MH Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan dan
berbagai Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai kampus di Kota Batam.
Evi
menambahkan berbagai pengalamannya bersama TNI meliput berita di pulau-pulau
terluar di Provinsi Kepri. Misalnya di Pulau Pekajang ia melihat para tentara
bukan minum air tawar, bukan minum air hujan, tetapi minum air laut. Para
tentara ini rela jauh dari keramaian kota, dan rela menelusuri semak belukar di
wilayah perbatasan tiada lain adalah karena kecintaanya terhadap bangsa dan
Negara Indonesia. “Wartawan yang
meliput tentu ikut merasakan beratnya perjuangan para tentara yang menjaga
kedaulatan NKRI” tambah Evi melanjutkan diskusi yang bertema “Peran Media
di wilayah Perbatasan dalam membangun Semangat Nasionalisme Guna Mensukseskan
Kepentingan Nasional”.
Andi
selaku Ketua Forum Pemred Kepri membuka dapur pers Haluan Kepri yang berkaitan
dengan peran pers dalam menjaga wilayah perbatasan dan mendukung nasionalisme
di wilayah Kepri dengan memberikan subsidi harga koran di daerah perbatasan.
“Jika di kaki secara ekonomi, harga Koran Haluan Kepri di Natuna, Anambas dan
Lingga hanya dengan Rp 3000 per eksemplar, kalau dihitung-hitung maka untuk bayar ongkos kirim saja tidak
cukup, maka ini bukan wilayah bisnis, tetapi demi menyanpaikan informasi di
wilayah perbatasan”. Ungkap Andi.
Mengharapkan
untung yang besar, dari periklanan sebagai mana yang didapatkan dari masyarakat
mainland adalah sebuah keniscayaan, karena ketika menejemen memutuskan membuka
cabang di daerah tersebut sudah menghitung kekurangan operasionalnya, dan
mendapatkan subsisidinya, sehingga perusahaan bisa tetap konsisten dalam
menjalankan bisnisnya. Tambah Andi.
Sementara
itu Muchid al-Bintani selaku Dosen Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru menjelaskan ada tiga
kategori seseorang disebut wartawan Perbatasan. Pertama, sikapnya yang
senantiasa konsisten memberitakan segala sesuatu sesuai dengan kondisi
dilapangan, tentu sesuatu tersebut jika diberitakan sesuai dengan etika dewan
pers, sehingga tidak oportunis dan pragmatis. Kedua adanya spirit membangun
nasionalisme, sehingga berita yang disampaikan senantiasa menentramkan dan
memunculkan simpati terhadap sikap nasionalisme di masyarakat. Terakhir
wartawan perbatasan harus mahir dalam menghindari potensi terjadinya separatism
dan disintegrasi bangsa. “Sikap ini menjadi tolak ukur wartawan perbatasan
dalam mewujudkan kepentingan nasional”. Pungkasnya. (mhth)

0 Response to "Konsistensi Pers Menjaga Perbatasan"
Posting Komentar