Pers dan Mahasiswa Harus Peduli Perbatasan
Pers
dan Mahasiswa mesti berperan aktif dalam mendorong membantu pembangunan daerah
perbatasan sehingga pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah dapat
berjalan lebih cepat dan terarah. Karena pers adalah saluran publikasi yang
dipercaya masyarakat dan penelitian mahasiswa menjadi salah satu rujukan
pemerintah dalam mengambil kebijakan dalam menentukan arah pembangunan.
Demikian disampaikan Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) IV TNI AL R
Eko Suyatno dalam diskusi yang gelar Forum Pimred dan Mhs di Hotel Vanesia 24
Juni 2017.
Wilayah
Kepri yang luasnya 8202 km2
dan 96% wilayahnya laut, memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dari sebelah utara yang berbatasan
dengan Vietnam dan Kamboja, wilayah timur berbatasan dengan Malaysia dan
Kalimantan Barat, wilayah selatan berbatasan dengan Bangka Belitung, dan Jambi,
dan wilayah barat berbatasan dengan Malaysia dan Riau. “TNI AL mengadakan
operasi di seluruh wilayah nusantara khususnya di Kepri sesuai dengan patok
batasan yang sudah disepakati dan ditentukan oleh pemerintah. Jadi klaim Negara
itu tidak bisa muncul begitu saja, tetapi ada filosofis historis dan filosofis
hukumnya”ucapnya.
Kebijakan
panglima TNI saat menenkankan penguatan
Gubernur sebagai mitra TNI, dibuktikan dengan mengadakan kegiatan yang
melibatkan dan menghadirkan Gubernur, beberapa waktu lalu TNI berkumpul di
Natuna yang merupakan salah satu daerah perbatasan bersama 23 Gubernur dari undangan 34 Gubernur seluruh Indonesia.
Dilanjutkan dengan kegiatan Pelayaran Lintas Nusantara (Pelantara) yang
melibatkan seluruh pemuda termasuk pemuda Kepri. “Untuk menumbuhkan cinta tanah
air Panglima TNI memerintahkan masing-masing satuan wilayahnya mengadakan lomba
lagu-lagu kebangsaan di tingkat sekolah”. pungkasnya
Feri Kaloso Kasub Perbatasan Kepri
menejelaskan pokok pokok pikrannya dengan mengangkat masalah pokok di daerah
perbatasan adalah penanganan
kawasan perbatasan yang
belum optimalnya koordinasi dan sinergitas antar sektor, keterisolasian,
keterbelakangan, kemiskinan, keterbatasan
prasarana dan sarana
pelayanan publik / infrastruktur, mahalnya harga barang dan jasa, rendahnya kualitas SDM pada
umumnya, penyebaran penduduk tidak merata. Hal lain yang sering
muncul ke permukaan daerah perbatasan adalah kurangnya personil yang
menangani perbatasan,
terjadinya perdagangan lintas batas ilegal, Illegal logging, illegal fishing, terjadinya proses pemudaran
terhadap wawasan kebangsaan
dan belum optimalnya koordinasi lintas sektoral dan lintas wilayah
perbatasan. “Harus ada perubahan paradigm tidak hanya
menggunakan cara pandang inward looking dimana melihat Perbatasan Negara
sebagai wilayah pertahanan yang harus dijaga secara militeristik tetapi juga menggunakan paradigma outward looking memandang NKRI
sebagai satu entitas yang memiliki elemen; kedaulatan, wilayah, dan penduduk,
yang harus dilindungi secara utuh” paparnya.
Pers
harus berperan aktif dalam mempublikasikan apa yang telah dilakukan pemerintah,
karena mempunyai peran yang sangat besar dalam penyampaian informasi yang tentunya
akan sangat bermanfaat bagi Pemerintah, Daerah, maupun Masyarakat yang langsung
terkait dengan masalah perbatasan. “Sekali
waktu turun bersama tim, meliput
kondisi eksisting di kawasan perbatasan,
sebagai penyambung lidah masyarakat kawasan perbatasan, kawasan tertinggal,
ataupun kawasan terpencil
lainnya berkenaan dengan pemerataan pembangunan, untuk disampaikan kepada
Pemerintah, mengingat jalur transportasi
dan komunikasi relatif memang masih sulit.” ujarnya.
Kehadiran
mahasiswa sangat penting dalam memberikan
pertimbangan dan pemikiran dari sudut pandang akademis, karena tugas utama mahasiswa
adalah mlakukan penelitian, buat seminar, mengaajukan proposal, memberikan masukan kepada semua
pihak terkait guna percepatan pengembangan dan pembangunan di kawasan
Perbatasan.
Selain itu melakukan studi kritis terhadap pelaksanaan pembangunan yang telah
dilaksanakan dan memberikan
pertimbangan yang
seharusnya dilakukan kedepan, karena banyak sekali yang bisa dilihat, baik
sisi potensi besar yang belum
tereksploitasi dengan baik.
Pimred
Haluan Kepri Andi melihat dari sudut
pandang pers dalam membantu pembangunan perbatasan dengan menjelaskan peran pers
yang secara jelas dan nyata menyampaikan semua program pemerintah, memberikan
masukan dan mendorong pemerintah mengeluarkan kebijakan yang pro rakyat, yang
paling pokok adalah menjadi filter terhadap informasi yang diberitakan media
asing, dan menjadi yang pertama menyampaikan informasi terkait potensi ancaman
bagi kedaulatan bangsa, karena pers memiliki kemampuan memutus isolasi
informasi. Solusinya adalah mengembangan teknologi, dalam mendukung
percepatan pembangunan di daerah perbatasan melalui pemberitaan.
Pungkasnya. (muhith)


0 Response to "Pers dan Mahasiswa Harus Peduli Perbatasan "
Posting Komentar