Sabar Terbatas dan Sabar Tidak Berbatas




Muhith, M.Ag
Ketua Persatuan Guru Nahdhatul Ulama (Pergunu) Kota Batam



Tanggal 9 Desember 2015 yang lalu, Indoensia mengadakan pemilihan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak, baik tingkat Kabupaten/Kota maupun tingkat Provinsi. Dalam Pilkada tersebut tentu ada yang menang dan ada yang kalah. Saat kampanye jargon yang diucapkan adalah siap menang dan siap kalah, namun terkadang ada calon yang siap menang tidak siap kalah. Jika dalam Pilkada kemarin kalah cara terbaik menyikapi masalah yang dihadapi adalah dengan bersabar. Sabar saat kalah dalam Pilkada dalam pandangan mufasir masih tergolong sabar yang berbatas, karena sabar tersebut tergolong sabar mengahdapi musibah berupa kekalahan dalam Pilkada. Rujukannya adalah QS. Al-Baqara/2: 155/156. Dimana dalam ayat tersebut mufradat yang digunakan adalah menggunakan kata shabara, jika dilihat dari bangunan kata tersebut diungkapkan untuk musibah yang berbatas. Pilkada tahun ini kalah bisa jadi Pilkada berikutnya menang, sehingga beban sabar yang alami waktunya terbatas, beban yang dialami dalam bersabar bisa hanya sebulan, dua bulan, atau tiga bulan. Setelah itu bebannya sudah hilang, sehingga tidak perlu menata hati untuk bersabar mengahdapi kekalahan dalam Pilkada.
 Jika artikan secara tektual shabar  dari segi bahasa berasal dari kata “shabara-yashbiru shabran” yang artinya menahan, menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai dengan syariah sehingga mampu menjaga akal, lisan dan hati  dari celaan dan berbuat dosa,  adapun firman Allah yang menguatkan makna ini QS.al-Kahfi/18:28 yang artinya : Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.
Sedangkan menurut al-Ghazali sabar adalah teguh dan tahan menetapi pengaruh yang disebabkan oleh penggerak agama untuk menghadapi pengaruh yang disebabkan oleh nafsu syahwat (penggerak hawa nafsu) dasar dari pengertian sabar ini adalah hadis Rasulullah dari Abu Hurairah  dari Nabi SAW bersabda yang artinya : Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegun-dahan, kesedihan, kesakitan maupun dukacita sampai-sampai tertusuk duri, niscaya Allah akan menebus dosanya dengan apa yang menimpanya itu.” HR. Muttafaq’alaih.dari hadis tersebut menerangkan bahwa orang muslim itu diuji oleh Allah dengan segala macam musibah supaya mereka bersabar dalam menghadapi cobaan. Jika ia sabar, maka Allah akan menghapus dosa-dosa mereka.
Dalam masalah sabar, maka ada sabar yang bersifat aktif seperti sabar dalam menjalankan perintah Allah, sabar menahan atau menghindari dari apa yang dilarang Allah, sabar ketika menghadapi musuh saat berjihad, sabar saat menuntut ilmu, sabar mencari nafkah, sabar memperbaiki nasib dengan merantau dan sabar meraih kemenangan, sabar dalam mengubah kemungkaran, sabar dalam memilih pasangan hidup, dan masih banyak contoh lain dalam kehidupan ini yang berkaitan dengan sabar yang bersifat aktif. Jadi pengertian sabar yang aktif ini tidak bisa hanya diam dirumah, melainkan beraktifitas dalam rangka menggapai target target yang telah direncanakan dengan matang sebelumnya.
Selain itu ada sabar yang bersifat pasif misalnya sabar saat mendapatkan musibah, misalnya kedua orang tua meninggal, suami meninggal, istri meninggal, anak meninggal, atau sabar menghadapi ujian berupa penyakit yang sudah menahun tidak sembuh-sembuh, sakit stroke tidak bisa menggerakkan badan, sedangkan daya ingat masih kuat, mengahdapi ujian seperti ini dibutuhkan kesabaran, sebagaimana sabar yang di alami Nabi Ayub, jenis sabar seperti ini dikategorikan sabar yang bersifat pasif.
Guru yang mengajar anak didiknya dikelas bisa dikategorikan sabar aktif karena ia besabar dengan berbagai macam cara dan metode agar anak didiknya pandai dan pintar. Akan tetapi bisa juga dikategorikan sabar yang bersifat pasif karena terkadang walaupun segala cara yang lakukan untuk mencerdaskan anak didiknya, anak didiknya tetap bodoh tidak mengerti apa yang diajarkan. Dengan demikian sikap sabar yang terjadi pada seseorang tidak mesti bersifat aktif atau pasif, karena terkadang dua-duanya yakni sabar yang bersifat aktif dan pasif secara bersamaan.
Karena banyak dimensi yang berbeda-beda dalam bersabar maka kesamaan sabar menjadi bermacam-macam. Pertama sabar yang kesamaan al-Jud (bersungguh-sungguh), kebalikannya al-Kasl (bermalas-malasan). contoh kesabaran ini adalah sabar dalam menekuni sebuah profesi, seperti melukis, menulis buku, menulis puisi, menulis cerpen, menari, berpidato,  menyanyi dan berbagai macam keahlian lainnya, untuk menggapai sebuah cita-cita maka kesabaran yang dibutuhkan adalah kesabaran yang persamaannya adalah al-Jud (bersungguh-sungguh).
Kedua sabar yang kesamaannya al-Ithma’nna (tenang) dan kebalikannya adalah al-Istihza’ (terburu-buru/tergesa-gesa), contoh dari kesabaan yang tidak terburu buru adalah sabar dalam menjawab saat ujian, sabar saat mengendarahi motor atau  menyetir mobil, sabar saat menjalankan shalat, karena dalam shalat ada ruku’, i’tidal, sujud dan seterusnya dimana dalam ruku’, i’tidal, sujud itu ada tuma’ninah yang mesti harus dijalani dengan tidak tergesa-gesa dan terburu. Jika shalat didirikan dengan tanpa tuma’ninah maka shalat tersebut dinggap tidak ada karena tidak sesuai rukun shalat. Untuk menghilangkan sifat terburu-buru sabar yangdibutuhkan adalah sabar yang kesamaanya al-Ithma’nna (tenang).
Ketiga sabar yang kesamaannya al-Daf’u al-Nafs (menahan diri) dan kebalikannya al-Itba’ al Syahwat (menuruti nafsu) contoh kesabaran menahan diri adalah sabar dalam menahan amarah, menahan gejolak nafsu angkara yang memerahkan telinga, dan membuat detak jantung tidak normal. Rasulullah mengajarkan melatih kesabaran yang berkaitan dengan menahan diri adalah dengan cara berdiam, jika saat marah itu duduk maka meredahknya dengan berdiri, jika marahnya saat berdiri maka meredahkannya dengan cara berjalan, jika sudah berjalan masih belum bisa menahan amarah maka dengan cara berwudlu.
Keempat sabar yang kesamaannya al-Jaza (mendapatkan balasan) diakhirat antara lain diampuni dosanya, dibebaskan dari api neraka, mendapatkan pahala yang tanpa batas dan mendapatkan pahala surga. Kesabaran yang tersebut diatas adalah tergolong kebaran yang berbatas, kenapa karena jika menilik teks al-Qur’an menggunakan kata shabara, yang dipahami oleh para mufasir kesabarnya ada batas waktunya.
Adapun kesabaran yang tidak berbatas adalah kesabaran yang mana pelakunya menjalani sabar selama hidupnya bahkan sampai mati pun terkadang masih disangkut pautkan. Contoh sabar ini adalah sabar dalam membimbing anak atau kelaurga untuk mendirikan shalat. Sesuai dengan Firman Allah QS. Thaha/ 20: 132 “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. Sabar disini adalah menurut ulama wajib hukumya memerinthkan, dan mengawasi shalat putra putrin sekeluarga. Kesabaran didalam ayat ini melekat terhadap orang tua dari saat putra-putri sekeluarga masih kecil hingga meninggal. Jika diperhatikan lebih jauh apabila ada anak yang bejat maka otomatis bapaknya terikut jelek namanya. Inilah kesabaran yang tidak berbatas karena sampai bapaknya meninggal pun terkadang masih disangkut pautkan atas ulah putra putrinya. Sedangkan secara tektual ayat tersebut menggunakan kata Ishthabara yang terbentuk dari kata shabara yang ditambah tha’ dan sha’. Dalam kaidah ilmu tafsir disebutkan : Ziyadah al-Mabna tadullu ‘ala Ziyadah al-Makna : Tambahnya bangunan (huruf) menunjukkan tambahnya pendalaman makna. Dengan demikian tambahnya tha’ dan sha’ dalam kata shabara yang menjadi kata Ishthabara menjadikan tambahnya beban sabar dalam memerintahkan shalat putra-putri sekeluarga. Kesabaran memerintahkan shalat terhadap putra putrid sekeluarga itu tergolong kebaran yang tidak berbatas. Wallahu a’lam.
 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sabar Terbatas dan Sabar Tidak Berbatas"

Posting Komentar