Tayangan TV Bulan Ramadhan
TV merupakan sarana yang sangat efektif untuk mentrasfer nilai dan
pesan yang dapat mempengaruhi khalayak secara luas, bahkan TV dapat membuat
orang kecanduan, sehingga media aoudio sosial ini telah menjadi narkoba sosial
yang paling efektif dan efesien diterima masyarakat. Kemudahan mengakses
informasi dari TV akan menggoda seseorang untuk mencari tayangan-tayangan TV
yang bukan kebutuhannya, sehingga media bukan menjadi hamba, akan tetapi orang
yang menjadi hamba media.
Josep A. Devito (1997) berpendapat peranan media seperti TV sebagai salah satu produk komunikasi massa yang memiliki persuasif terhadap penontonnya, fungsi persuasif tersebut datang dari berbagai bentuk, antara lain mengukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan atau nilai seseorang, kemudian mengubah sikap, kepercayaan atau nilai seseorang dan dapat pula menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu, memperkenalkan etika atau menawarkan sistem nilai tertentu, sehingga jika masyarakat menonton tayangan TV yang tidak pantas maka dampak dari fungsi persuasi adalah pergeseran nilai dan sikap masyarakat menjadi seperti yang ditontonnya, begitu juga sebaliknya jika masyarakat menonton tayangan TV yang bernilai dan religi maka dampak dari fungsi persuasi adalah pergeseran nilai dan sikap masyarakat menjadi seperti yang dilihatnya, karena belajar yang paling mudah bagi masyarakat adalah observasi, imitasi dan modeling yakni memperhatikan, meniru dan mempraktekkan.
Josep A. Devito (1997) berpendapat peranan media seperti TV sebagai salah satu produk komunikasi massa yang memiliki persuasif terhadap penontonnya, fungsi persuasif tersebut datang dari berbagai bentuk, antara lain mengukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan atau nilai seseorang, kemudian mengubah sikap, kepercayaan atau nilai seseorang dan dapat pula menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu, memperkenalkan etika atau menawarkan sistem nilai tertentu, sehingga jika masyarakat menonton tayangan TV yang tidak pantas maka dampak dari fungsi persuasi adalah pergeseran nilai dan sikap masyarakat menjadi seperti yang ditontonnya, begitu juga sebaliknya jika masyarakat menonton tayangan TV yang bernilai dan religi maka dampak dari fungsi persuasi adalah pergeseran nilai dan sikap masyarakat menjadi seperti yang dilihatnya, karena belajar yang paling mudah bagi masyarakat adalah observasi, imitasi dan modeling yakni memperhatikan, meniru dan mempraktekkan.
Menurut Carlos A Valle (1992) ada tiga tanggapan mengenai tayangan
TV untuk tujuan agama. Pertama tidak sepakat Media agama di layar TV, atau
kelompok anti mediasi agama, karena TV merupakan fantasi gambar dan ide-ide
yang tidak memiliki hubungan positif dengan kebenaran, sedangkan agama
merupakan masalah kepastian yang berkaitan dengan kebenaran. Kedua Tayangan TV
keagamaan merupakan aspek penting dalam agama, namun pengawasannya mutlak
diperlukan karena dalam tayangan TV melekat komersialisasi dan hiburan,
sehingga pesan keagamaan bisa di anggap menjadhi hal sepele dan kurang
bermakna. Ketiga tayangan TV sebagai cerdas media yang menjadi gabungan
pendapat antara yang berpendapat pesimistik dan optimistik. Ini didasarkan
realitas masyarakat modern tidak bisa lepas dari tayangan TV sehingga TV harus
mampu berpartisipasi dalam menciptakan informasi yang berkaitan dengan
keagamaan.
Ramadan adalah bulan penuh berkah, hampir sehari semalam masyarakat
muslim selalu tetap ada yang beribadah dan ada yang tetap terjaga, secara sadar
atau tidak mereka bergantian tidak tidur di Bulan Ramadan. Para pengelola TV
tahu betul tentang hal itu, sehingga mereka yang ada yang mempersiapkan dengan
matang program-program unggulan di Bulan Ramadhan, berkonsultasi dengan Majelis
Ulama Indonesia, dengan Dewan Pers bahkan dengan KPI agar tayangannya
benar-benar bermakna dan mempunyai value. Namun ada beberapa program acara TV
setiap saat berubah, bergantung musim dan situasi yang sedang terjadi di
Rebuplik ini. Program seperti ini biasanya berlaku setahun penuh gak
putus-putus. Jika momen Ramadan tinggal menambah Edisi Ramadan. Misalnya
program acara Hitam Putih, Pesbuker, Rumah Kuya dan banyak program acara TV
lain yang hanya mencatolkan momen tersebut secara sepintas. Program acara TV
seperti ini tentu value-nya berbeda dengan program acara yang memang sudah
dipersiapkan secara matang.
Tayangan TV di bulan Ramadan apaun bentuk program acaraanya tetap
di tonton masyarakat. Pendapat ini dikuatkan dalam Forum Group Discusion (FGD)
di kantor KPI Pusat Jakarta 2015 saat perwakilan dari pengusaha mengatakan “ Kalian
membuat program acara apapun di Bulan Ramahan pasti saya pasang Iklan, karena
umat islam 24 jam gak lepas dari nonton TV”. Dengan demikian Ramadan sangat
tepat jika dijadikan sebagai momentum tayangan keagamaan, terbukti beragam
program acara seluruh TV berlomba-lomba menayangkan tayangan terbaiknya mulai
dari jenis sinetron, feature, documenter, talent show, talk show, variety show
dan program acara lain yang selalu dibingkai dalam bentuk tayangan keagamaan,
namun karena semua acara ditonton masyarakat dan dipasang iklan oleh pengusaha
lalu kemudian hanya mencantolkan kata Ramadan dibelakang, karena program acara
tersebut tujuan awalnya menyemarakkan Ramadan, malah mengganggu umat islam yang
sedang beribadah puasa.
Melihat program acara unggulan bulan Ramadan terhadap 15 TV
berjaringan secara kuantitas semakin banyak jumlah tayangannya. Tahun lalu ada
TV berjaringan yang hanya menayangkan dua tayangan religi di Bulan Ramadan,
tahun ini hampir tidak ada lagi, minimal lima tayangan unggulan di Bulan
Ramadan, dan jika dirata-rata 2 jam, maka dalam sehari semalam aka ada tayangan
religi 2x5x15= 150 tayangan religi yang menyemarakkan Ramadan. Namun
kenyataannya tidak semua tayangan TV yang ada kaitannya dengan Ramadan bermakna
karena dalam tayangan tersebut masih terdapat pelanggaran.
Ada beberapa program acara TV Ramadan tahun lalu yang masih
dipertahankan tahun ini, namun banyak juga program acara TV Ramadan yang
diganti karena alasan rating yang rendah atau karena banyaknya teguran KPI
terhadap programn acara tersebut, tayangan Ramadan yang mendapatkan teguran KPI
antara lain Pesbuker, sesuai artinya Pesta buka barengi selebriti, namun karena
tayangan ditayangkan secara langsung canda yang di lontarkan Komedian sering
kelewat batas, ada bentuk pelanggaran saling mencela dan menghina sehingga
melanggar kesopanan, pelanggaranya sudah dua tahun berturut –turut yang 2014
dan 2015, pada tahun ini jelas akan mendapatkan teguran dari KPI lagi karena
pada hari kedua Pesbuker edisi 9/2016 dengan jelas terdengar mengeluarkan kata
yang tidak pantas.
Program lain yang banyak melangar norma kesopanan paling banyak
dalam catatan KPI adalah Opera Van Java sahur, nama acaranya terkadang di balik
menjadi Sahurnya OVJ, OVJ Sahurnya Indonesia, Pasahur dan Alhamdulillah Kita
Sahur, namun karena acaranya banyolan yang sepontan sehingga banyak melanggar
norma kesopanan, bahkan program acara ini mendapatkan teguran dari KPI mulai
tahun 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, enam tahun berturut turut
mendapat teguran, dan tahun 2016 juga pasti akan mendapatkan teguran dari KPI
karena pada hari kedua OVJ Sahur 9/2016 dalam acara tersebut sudah terdengar
dari layar kaca kata kata yang tidak pantas dan melanggar norma kesopanan.
Tayangan lain yang tahun lalu mendapatkan teguran dari KPI dan pada
tahun ini mengganti program dengan format yang berbeda antara lain Assalamu
Alaikum D Terong Show dalam acara ini pelanggaran yang terjadi adalah
mendramatisir nilai nilai agama dengan berjoget, di tengah perjalanannya
mendapatkan masukan dari berbagai Ormas Islam, akhirnya sesi mendramatisir
nilai-nilai agama dengan berjoget tersebut dihilangkan, dan pada tahun ini
diganti dengan Q akademi, Sahur itu Indah adalah program acara turunan dari Yuk
Kita Sahur (YKS) karena YKS ratingnya sangat tinggi di luar Ramadan diganti
singkatannya menjadi You Keep Smile, namun dalam perjalanannya acara tersebut
menghina Tokoh masyarakat dan dianggap pelanggaran berat, akhirnya acara
tersebutdi hentikan KPI. Dalam acara Sahur itu Indah pada tahun lalu juga
mendapat teguran tertulis karena terbukti melanggar norma kesopanan.
Program acara Variety Show Ngabuburit yang konsepnya terdiri dara
Sketsa Komedi, Games Interaktif, melibatkan penonton di Rumah Studio dan
Ceramah Agama yang ditayangkan menjelang berbuka puasa, tayangan yang mestinya
mendidik dan menghibur ini malah mendapatkan teguran dari KPI karena
Komedaiannya melanggar batas norma kesopanan dan kesausilaan dan Games
Interaktifnya menayangkan adegan yang berbahaya.
Bagi sebagian orang yang tidak terlibat dalam industri penyiaran
mungkin menganggap sebuah teguran tidak mempunyai pengaruh, akan tetapi bagi
karyawan yang terlibat dalam industri penyiaran surat teguran dari KPI
mempunyai pengaruh yang luar biasa, bisa saja setelah mendapatkan teguran semua
dikumpulkan rapat evaluasi kinerja, jika nasib kurang beruntung seorang Quality
Control Penyiaran, bisa tertunda kenaikan pangkatnya atau golongannya karena
dianggap lalai dalam melaksanakan tugas.
Tayangkan TV Ramadan seperti inikah yang diharapkan oleh pemirsa,
nilai atau velue apa yang ditawarkan dalam menyemarakkan Ramadan, jika dalam
tayangan Ramadan saja melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program
Siaran (P3SPS) apalagi sampai membawa misi Ramadan, pada hal mestinya tayangan
Ramadan mampu menghadikan suasana Ramadan sampai ke ruang-ruang keluarga.
Jika Tayangan melihat tayangan TV Ramadan tahun lalu, dengan tahun
ini nampaknya tahun ini lebih baik, buktinya candaan Komedian yang ditayangkan
secara live yang melanggar norma kesopanan dan kesusilaan sudah hampir tidak
ada. Tahun lalu jika acaranya ditayangkan secara live pelanggaran yang
dilakukan Komedian bisa berulang-ulang, pada tahun ini dengan acara yang sama
Komedian sudah mulai faham sehingga dalam siaran live selama 2 jam hanya sekali
kesalahan dilakukan, ini membuktikan tayangan TV Ramadan yang disiarkan secara live semakin
baik.
Selain memberikan kritikan dan teguran KPI bekerja sama deng
Pemberian penghargaan yang sudah dua tahun berturut memberikan
dampak yang positif bagi insan TV dan Industri Penyiaran, kerja keras dan
ide-ide cerdas yang inspiratif mereka dalam memproduksi program acara special
Ramadan membuahkan hasil berupa mendapatkan penghargaan dari KPI dan MUI. Lembaga
penyiaran dan masyarakat harus peduli penyiaran yang sehat, penyiaran yang
bermartabat agar tayangan TV Ramadan benar-benar mendatangan hikmah yang
berkesan bagi pemirsa. Semoga***.
Batam, 8 Juni 2016
Penulis : Muhith, M.Ag, Koordinator Isi Siaran
KPID Kepri, Dosen STIQ Kepri.


0 Response to "Tayangan TV Bulan Ramadhan"
Posting Komentar