Tafsir Sufi
Pertemuan ke 8
Mata Kuliah Mazahib Tafsir
a. Narasi yang Salah
Mata Kuliah Mazahib Tafsir
a. Narasi yang Salah
Tafsir Sufi
Kata
suf (صوف)
berasal dari madzi dan mudlari’ صاف يصوف yang
mempunyai arti tenunan dari bulu domba (wol), merujuk pada jubah yang dikenakan
oleh orang muslim yang bergaya hidup sederhana. Sebagian ulama berpendapat bahwa
kata sufi berasal dari amar dan mudlari’ صفا يصفو yang
mempunyai arti jernih, bersih. Hal ini menaruh penekanan pada memurnian hati
dan jiwa. Yang dimaksud dengan tafsir sufi adalah tafsir yang ditulis oleh para
sufi (Al-Zarqani, 1986:117).
Menururt
Al-Zarqani tafsir sufi adalah “menafsirkan Al-Qur’an tidak dengan makna zahir,
melainkan dengan makna batin, karena ada isyarat yang tersembunyi yang terlihat
oeh para sufi. Namun demikian tafsir batin tersebut masih tidak dapat dikompromikan dengan makna zahirnya.
Sesuai
dengan pembagian dalam dunia tasawwuf tafsir ini juga dibagi menjadi tiga yaitu tafsir yang sejalan dengan tashawwuf an
Nadzari disebut Tafsir al Shufi al Nadzri, dan yang sejalan dengan tashawwuf
amali disebut tafsir al isyari.
1. Tafsir Sufi Nadhari
Tafsir sufi nadhari adalah tafsir
sufi yang dibangun untuk mempromosikan dan memperkuat teori-teori isyari yang dianut mufassir. Az-Zahabi mengatakan
bahwa tafsir sufi nadhari dalam praktiknya adalah penafsiran al-Qur’an yang
tidak memeperhatikan segi bahasa serta apa yang dimaksudkan oleh syara. Ulama
yang dianggap kompeten dalam tafsir tasawuf teoritis (nadhari) yaitu Muhyiddin
Ibn al-‘Arabi. Ibn ‘Arabi dianggap sebagai ulama tafsir sufi nadhari yang meyandarkan
bebarapa teori-teori tasawufnya dengan al-Qur’an.
Az-Zahabi menjelaskan karekteristik
atau ciri-ciri dalam penafsiran nadhari sebagai berikut : Pertama, dalam
penafsiran ayat-ayat al-Qur’an tafsir nadhari sangat besar dipengaruhi oleh
filsafat. Kedua, di dalam tafsir nadhari, hal-hal yang gaib dibawa ke dalam
sesuatu yang nyata atau tampak dengan perkataan lain membedakan
yang gaib pada nyatanya. Ketiga,
terkadang tidak memperhatikan kaidah-kaidah nahwu dan hanya menafsirkan apa
yang sejalan dengan ruh dan jiwa sang mufassir. Contoh Tafsir Sufi Nadhari QS
al-Baqarah 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي
وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang
Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar
mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Kata do’a yang terdapat dalam ayat
tersebut oleh sufi diartikan bukan berdo’a dalam arti lazim dipakai. Kata itu
bagi golongan ini adalah mengandung arti berkeinginan
atau memanggil. Tuhan mereka panggil dan Tuhan melihat dirinya kepada mereka.
Dengan perkataan lain, mereka berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan
dirinya kepada mereka.
2. Tafsir Sufi Isyari
Tafsir sufi isyari adalah
pentakwilan ayat-ayat al-Qur’an yang berbeda dengan makna lahirnya sesuai
dengan petunjuk khusus yang diterima para tokoh sufisme tetapi di antara kedua
makna tersebut dapat dikompromikan. Metode yang dipakai dalam tafsir tasawuf
secara umum adalah metode isyarat (Isyarah). Tujuannya di
sini maksudnya adalah menyingkap apa yang ada di dalam makna lahir suatu ayat
untuk mengetahui hikmah-hikmahnya.
Semua tafsir sufi tidak bisa begitu saja diterima tetapi harus memenuhi
syarat-syarat yang tidak boleh ditinggalkan mufasir. Syarat-syarat tersebut
adalah sebagai berikut :
a.
Penafsiran
Isyari tidak boleh menafikan apa yang dimaksudkan makna zhahir.
b.
Harus
ada nas lain yang menguatkannya.
c.
Tidak
bertentangan dengan syara’ dan akal.
d.
Harus
diawali dengan penafsiran terhadap makna lahir, dan memungkinkan adanya makna
lain selain makan zhahir Contoh Tafsir Sufi Isyari contoh penafsiran isyari
yang dapat diterima karena telah memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, yaitu
penafsiran al-Tastary ketika menafsirkan ayat Qs. al-Baqarah/2:22 :
فلا تجعلوا لله اندادا
Al-Tastary menafsirkan andadan
yaitu gelora amarah yang jelek. Jadi maksud andadan
disini bukan hanya patung-patung, setan atau jiwa tetapi nafsu amarah yang
sering dijadikan Tuhan oleh manusia adalah perihal yang dimaksud dari ayat
tersebut, karena manusia selalu menyekutukan Tuhannya dengan selalu menjadi
hamba bagi nafsu amarahnya.
Menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an
dengan melihat isyarat yang ada di dalamnya telah banyak dilakukan oleh para
sahabat Nabi, diantaranya penafsiran isyari sahabat yaitu ketika para sahabat
mendengar ayat pertama dari surat al-Nasr/ 1 yang bunyinya:
جاء
نصر الله والفتح اذا
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan” (QS.
Al-Nasr:1) di antara mereka ada yang mencoba memberikan penafsiran ayat
tersebut dengan mengatakan bahwa ayat tersebut memerintahkan kepada mereka
untuk bertaubat kepada Allah dan meminta
ampunannya. Tetapi berbeda dengan Ibn Abbas yang mengatakan bahwa ayat tersebut
adalah sebagai tanda ajal Rasulullah.
3.
Perbedaan Tafsir Sufi Nadhari dan Isyari
Az-Zahabi memeberikan penjelasan
mengenai perbedaan antara tafsir sufi nadzari dengan tafsir sufi isyari sebagai
berikut : Tafsir sufi nadzari dibangun atas dasar pengetahuan ilmu sebelumnya
yang ada dalam seorang sufi yang kemudian menafsirkan al-Qur’an yang dijadikan
sebagai tujuan tasawufnya. Adapun tafsir sufi
isyari bukan didasarkan pada adanya pengetahuan ilmu sebelumnya, tetapi
didasari oleh ketulusan hati seorang sufi yang mencapai derajat tertentu
sehingga tersingkapnya isyarat-isyarat al-Qur’an.
Dalam tafsir sufi nadzari seorang
sufi berpendapat bahwa semua ayat al-Qur’an mempunyai makna-makna tertentu dan
bukan makna lain yang di balik ayat. Adapun dalam tafsir sufi isyari asumsi
dasarnya bahwa ayat-ayat al-Qur’an mempunyai makna lain yang ada di balik makna
batin. Dengan perkataan lain bahwa al-Qur’an
terdiri dari makna zahir dan batin.
Berkaitan perbedaan tersebut dapat dicontohkan sebagai
berikut:
1. al-Ghazali menafsirkan potongan ayat
(QS:20;12) ( فَاخْلَعْ نَعْلَيْلَكَ ) yang secara zahir “tinggalkanlah (Wahai Musa) kedua
sandalmu”. Menurut al-Ghazali makna batin dari ayat ini adalah “Tanggalkan (Hai
Musa) kedua keinginanmu, baik alam dunia mupun
akhirat. Yakni, janganlah engkau memikirkan keuntungan duniawi dan jangan pula
mencari pahala ukhrawi, tapi carilah wajah Allah semata”.
2. Az-Zahabi
memberikan contoh tafsir nadhari yang dipengaruhi filasafat yaitu penafsiran
Ibn al’Arabi terhadap QS Maryam/ 57 :
وَرَفَعْ نَٰهُ مَكَانًا
عَلِيًّا Artinya:
“Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi”. Menurut az-Zahabi
penafsiran Ibn al-’Arabi tersebut sangat dipengaruhi oleh pemikiran filasafat
alam yaitu dengan menafsirkan lafazh makanan ‘aliyyan dengan langit.
3. Bathiniyah
Al-Taftazani, (Abu Al-Wafa Al-Ghanami, 1997:207). Dengan dalih bahwa di balik
makna zahir Al-Qur’an tersimpan makna batin, mereka mengembangkan tafsir batin
yang disesuaikan dengan ajaran-ajaran mereka sendiri. Misalnya saja ketika
mereka menafsirkan surat al-Hijr ayat 99
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
﴿الحجر:٩٩
(QS.15:99)
Menurut pendapat jumhur, ayat itu berarti “sembahlah Tuhanmu
sampai ajal tiba”. Namun kaum Bathiniyah mengembangkan penafsiran sendiri.
Menurut mereka makna ayat itu adalah “barangsiapa telah mengerti makna ma’rifat, maka gugurlah kewajiban baginya” (Faudah,
1987:217).
*Catatan:
Tulisan ini diambil dari http://just4th.blogspot.com/2012/05/tafsir-sufi
tanggal 22/3/2020
b. Narasi yang Benar
Tafsir Sufi
Kata
suf (صوف)
berasal dari madzi dan mudlari’ صاف يصوف yang
mempunyai arti tenunan dari bulu domba (wol), merujuk pada jubah yang dikenakan
oleh orang muslim yang bergaya hidup sederhana. Sebagian ulama berpendapat
bahwa kata sufi berasal dari madzi dan mudlari’ صفا
يصفو yang mempunyai arti jernih, bersih. Hal ini menaruh
penekanan pada memurnian hati dan jiwa. Yang dimaksud dengan tafsir sufi adalah
tafsir yang ditulis oleh para sufi (Al-Zarqani, 1986:117).
Menururt
Al-Zarqani tafsir sufi adalah “menafsirkan Al-Qur’an tidak dengan makna zahir,
melainkan dengan makna batin, karena ada isyarat yang tersembunyi yang terlihat
oeh para sufi. Namun demikian tafsir batin tersebut masih dapat dikompromikan
dengan makna zahirnya.
Sesuai
dengan pembagian dalam dunia tasawwuf tafsir ini juga dibagi menjadi dua yaitu
tafsir yang sejalan dengan tashawwuf an Nadzari disebut Tafsir al Shufi al
Nadzri, dan yang sejalan dengan tashawwuf amali disebut tafsir al isyari.
1. Tafsir
Sufi Nadhari
Tafsir sufi nadhari adalah tafsir sufi yang dibangun untuk
mempromosikan dan memperkuat teori-teori mistik yang dianut mufassir.
Az-Zahabi mengatakan bahwa tafsir sufi nadhari dalam
praktiknya adalah penafsiran al-Qur’an yang tidak memeperhatikan segi bahasa
serta apa yang dimaksudkan oleh syara.
Ulama yang dianggap kompeten dalam tafsir tasawuf teoritis
(nadhari) yaitu Muhyiddin Ibn al-‘Arabi. Ibn ‘Arabi dianggap sebagai ulama
tafsir sufi nadhari yang meyandarkan bebarapa teori-teori tasawufnya dengan
al-Qur’an. Karya tafsir Ibn al-‘Arabi di antaranya al-Futuhat al-Makiyat dan
al-Fushush.
Karakteristik Tafsir Sufi Nadhari
az-Zahabi menjelaskan karekteristik atau ciri-ciri dalam
penafsiran nadhari sebagai berikut :
Pertama, dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an tafsir nadhari
sangat besar dipengaruhi oleh filsafat. Kedua, di dalam tafsir nadhari, hal-hal
yang gaib dibawa ke dalam sesuatu yang nyata atau tampak dengan perkataan lain
meng-qiyas-kan yang gaib pada nyataan.
Ketiga, terkadang tidak memperhatikan kaidah-kaidah nahwu
dan hanya menafsirkan apa yang sejalan dengan ruh dan jiwa sang mufassir. Contoh
Tafsir Sufi Nadhari QS al-Baqarah 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي
قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِي إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي
وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu
tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar
mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Kata do’a yang terdapat dalam ayat tersebut oleh sufi
diartikan bukan berdo’a dalam arti lazim dipakai. Kata itu bagi golongan ini
adalah mengandung arti berseru atau memanggil. Tuhan mereka panggil dan Tuhan
melihat dirinya kepada mereka. Dengan perkataan lain, mereka berseru agar Tuhan
membuka hijab dan menampakkan dirinya kepada mereka.
2. Tafsir Sufi Isyari
Tafsir sufi isyari adalah pentakwilan ayat-ayat al-Qur’an
yang berbeda dengan makna lahirnya sesuai dengan petunjuk khusus yang diterima
para tokoh sufisme tetapi di antara kedua makna tersebut dapat dikompromikan.
Metode yang dipakai dalam tafsir tasawuf secara umum adalah
metode isyarat (Isyarah). Isyarat di sini maksudnya adalah menyingkap apa yang
ada di dalam makna lahir suatu ayat untuk mengetahui hikmah-hikmahnya.
Semua tafsir isyari tidak bisa begitu saja diterima tetapi
harus memenuhi syarat-syarat yang tidak boleh ditinggalkan mufasir.
Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :
ü
Penafsiran Isyari tidak boleh
menafikan apa yang dimaksudkan makna zhahir.
ü
Harus ada nas lain yang
menguatkannya.
ü
Tidak bertentangan dengan syara’ dan
akal.
ü
Harus diawali dengan penafsiran
terhadap makna lahir, dan memungkinkan adanya makna lain selain makan zhahir Contoh
Tafsir Sufi Isyari contoh penafsiran isyari yang dapat diterima
karena telah memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, yaitu penafsiran
al-Tastary ketika menafsirkan ayat 22 dari surat al-Baqarah : فلا تجعلوا لله اندادا Al-Tastary
menafsirkan andadan yaitu nafsu amarah yang jelek. Jadi maksud andadan disini
bukan hanya patung-patung, setan atau jiwa tetapi nafsu amarah yang sering
dijadikan Tuhan oleh manusia adalah perihal yang dimaksud dari ayat tersebut,
karena manusia selalu menyekutukan Tuhannya dengan selalu menjadi hamba bagi
nafsu amarahnya. Menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan melihat isyarat
yang ada di dalamnya telah banyak dilakukan oleh para sahabat Nabi, diantaranya
penafsiran isyari sahabat yaitu ketika para sahabat mendengar ayat pertama dari
surat al-Nasr ayat 1 yang bunyinya: اذا
جاء نصر الله والفتحArtinya: “Apabila telah datang
pertolongan Allah dan kemenangan” (QS. Al-Nasr:1) di antara mereka ada yang
mencoba memberikan penafsiran ayat tersebut dengan mengatakan bahwa ayat
tersebut memerintahkan kepada mereka untuk bersyukur kepada Allah dan meminta
ampunannya. Tetapi berbeda dengan Ibn Abbas yang mengatakan bahwa ayat tersebut
adalah sebagai tanda ajal Rasulullah saw.
3.
Perbedaan Tafsir Sufi Nadhari dan Isyari
Az-Zahabi memeberikan penjelasan mengenai perbedaan antara
tafsir sufi nadzari dengan tafsir sufi isyari sebagai berikut :
Tafsir sufi nadzari dibangun atas dasar pengetahuan
ilmu sebelumnya yang ada dalam seorang sufi yang kemudian menafsirkan al-Qur’an
yang dijadikan sebagai landasan tasawufnya. Adapun tafsir sufi isyari bukan
didasarkan pada adanya pengetahuan ilmu sebelumnya, tetapi didasari oleh
ketulusan hati seorang sufi yang mencapai derajat tertentu sehingga
tersingkapnya isyarat-isyarat al-Qur’an.
Dalam tafsir sufi nadzari seorang sufi berpendapat
bahwa semua ayat al-Qur’an mempunyai makna-makna tertentu dan bukan makna lain
yang di balik ayat. Adapun dalam tafsir sufi isyari asumsi dasarnya bahwa
ayat-ayat al-Qur’an mempunyai makna lain yang ada di balik makna lahir. Dengan
perkataan lain bahwa al-Qur’an terdiri dari makna zahir dan batin.
Contoh Penafsiran Yang Lain
1. al-Ghazali menafsirkan potongan ayat
(QS:20;12) ( فَاخْلَعْ نَعْلَيْلَكَ ) yang secara zahir “tinggalkanlah (Wahai Musa) kedua
sandalmu”. Menurut al-Ghazali makna batin dari ayat ini adalah “Tanggalkan (Hai
Musa) kedua alammu, baik alam dunia mupun akhirat. Yakni, janganlah engkau
memikirkan keuntungan duniawi dan jangan pula mencari pahala ukhrawi, tapi
carilah wajah Allah semata”.
2. Az-Zahabi
memberikan contoh tafsir nadhari yang dipengaruhi filasafat yaitu penafsiran
Ibn al’Arabi terhadap ayat 57 dari surat Maryam : وَرَفَعْنَٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا Artinya: “Dan Kami telah
mengangkatnya ke martabat yang tinggi”. Menurut az-Zahabi penafsiran Ibn
al-’Arabi tersebut sangat dipengaruhi oleh pemikiran filasafat alam yaitu
dengan menafsirkan lafazh makanan ‘aliyyan dengan antariksa (alam bintang).
3. Bathiniyah
Al-Taftazani, (Abu Al-Wafa Al-Ghanami, 1997:207). Dengan dalih bahwa di balik
makna zahir Al-Qur’an tersimpan makna batin, mereka mengembangkan tafsir batin
yang disesuaikan dengan ajaran-ajaran mereka sendiri. Misalnya saja ketika
mereka menafsirkan surat al-Hijr ayat 99
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
﴿الحجر:٩٩
(QS.15:99)
Menurut pendapat jumhur, ayat itu berarti “sembahlah Tuhanmu
sampai ajal tiba”. Namun kaum Bathiniyah mengembangkan penafsiran sendiri.
Menurut mereka makna ayat itu adalah “barangsiapa telah mengerti makna ibadah,
maka gugurlah kewajiban baginya” (Faudah, 1987:217).
*Catatan:
Tulisan ini diambil dari http://just4th.blogspot.com/2012/05/tafsir-sufi
tanggal 22/3/2020


0 Response to "Tafsir Sufi"
Posting Komentar