RRI Jendral Penyiaran Perbatasan










Suleman Yusuf adalah yang berkecimpung di RRI. Ia mulai menjadi Kepala RRI tahun 2010 tepat di RRI Madiun mulai tahun 2010 -2012, kemudian Kepala RRI Bengkulu 2012-2014, kemudian Kepala RRI Banjarmasin 2014-2016 dan sekarang menjadi Direktur Program Produksi dari 2016-Sekarang.
Pengalamnya berpuluh-puluh tahun menjadi praktisi bidang penyiraan khususnya RRI maka ia tahu betul perjuangan teman-teman mereka yang tugaskan diderah perbatasan. Mengingat daerah perbatasan yang baru nyata-nyata menjadi benteng NKRI adalah TNI dan Polri selebihnya masih selektif,  masih disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang peduli di daerah tersebut. Paparnya mengawali menjadi pemateri dalam diskusi yang berjudul “ Membangun Komunikasi dan Informasi di Perbatasan Untuk Memperkuat Kedualatan NKRI” yang digagas oleh Kominfo da Ansor di Hotel Harris 20/9/2016.
Lebih lanjut Suleman memaparkan pengalamannya saat berada di Banjarmasin dan harus mendatangi daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia, yakni daerah Entikong, Atanbua dan Sekung. Daerah yang langsung aberbatasan dengan daratan Malaysia ini tentu meiliki kesulitan tersendiri jika seseorang harus datang ke daerah tersebut. Jarak antara kota kecamatan dengan perbatasan itu antara Jakarta dan Yogyakarta yang dipenuhi dengan semak belukar. Apabila mau hadir ke masyarakat tersebut jika TNI membawa Helicopter harus mengisi minyak di tengah-tengah perjalanan karena jaraknya yang jauh. Kalau masyarakat biasa naik kapal atau kendaraan darat bisa tiga hari dalam perjalanan dengan jalan yang penuh dengan genangan air dan kanan kiri penuh dengan semak belukar. Paparnya
Bahkan beberapa masyarakat di sana menyatakan ingin bergabung dengan Malaysia jika pemerintah Indoensia tidak mempedulikannya. Karena perbatasan antara Indoensia dengan Malaysia hanya berdasatkan tonggak, Kalau setiap hari diiming-iming dengan makanan diberi kemudahan dalan belanja dan banyak kemudahan lain ketika menjadi warga Malaysia maka lambat laun masyarakat akan sampai pada titik jenuh sehingga masyarakat dengan sendirinya akan menindahkan tonggak tersebut. Itulah problem terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini di derah perbatasan. Imbuhnya
Saat ini masyarakat di derah perbatasan masih bersemboyan “ Garuda didadaku Ringgit di perutku”.  Semboyan ini tiada lain karena selama ini membeli makanan lebih mudah dari Malaysia dan informasi dari Negara tetangga itu juga mudah sampai ke masyarakat. Maka akhirnya ada tuntutan dari masyarakat perbatasan Tarakan di tiga pulau-pulau kecil, tuntutannya adalah agar pemerintah memberikan kemudahan sinyal telepon agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat lainnya. Akhirnya pemerintah melalui kominfo bekerja sama dengan telkomsel lima tahun yang lalu membuat tower di sana yang fungsinya agar mereka dapat mengakses informasi berupa bisa menelpon antar satu masyarakat dengan masyarakat lain.
Mengapa RRI menjadi jendralnya penyaiaran daerah perbatasan, karena hampir semua perbatasan RRI secara totalitas memberikan informasi dari pemerintah kepada masyarakat LPS lainnya hanya mau bersiaran di derah-deaerah yang secara ekonomi menguntungkan. Dan kekuatan penyiaran adalah merupakan kekuatan yang tidak bisa dipandang remeh kerena merupakan sebagai kekuatan keempat. Pungkasnya. (muhith)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "RRI Jendral Penyiaran Perbatasan"

Posting Komentar